Bontang

2 Tahun Memeras di Pelabuhan, 5 Preman Diciduk Polisi

Otak Pemerasan Residivis Kasus Pembunuhan

BONTANG – Selama kurang lebih 2 tahun, 5 preman di Pelabuhan Loktuan sering melakukan pemerasan dengan ancaman. Karena sangat meresahkan warga, Polres Bontang pun menciduknya.

Salah satu preman yang merupakan otak dari kegiatan meresahkan tersebut merupakan residivis kasus pembunuhan dan penganiayaan.

Informasi yang dihimpun, 5 preman tersebut sering melakukan aktivitas pungutan liar alias pungli kepada para pengendara yang keluar dari Pelabuhan Loktuan. Kejadian pemerasan tersebut diwarnai dengan ancaman dan dilakukan jika kapal penumpang datang atau berangkat yakni pada Kamis dan Sabtu.

Padahal, PT Pelindo IV Cabang Bontang sudah menarik biaya masuk kendaraan secara resmi sebesar Rp 5.000. Namun kelompok preman tersebut, menarik lagi biaya keluar kendaraan sebesar Rp 10.000 per 1 kendaraan.

5 preman yang diamankan Polres Bontang diantaranya Kaseng Bin Abd Muin (45) warga Jalan RE Martadinata  RT 03 Loktuan yang merupakan otak pemerasan tersebut, Ali Musafir (28) warga Jalan Kapal Layar 3 Kelurahan Loktuan, Alfuadi (19) warga Selambai Loktuan, serta Jamaluddin (43) warga Jalan RE Martadinata RT 05 Loktuan. Empat orang tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka, sementara 1 orang lainnya masih berstatus sebagai saksi.

Kapolres Bontang, AKBP Andy Ervyn melalui Kasat Reskrim Polres Bontang, Iptu Rihard Nixson mengatakan, sudah cukup lama banyak masyarakat yang terganggu akibat ulah ke-4 tersangka tersebut.

Bahkan, sudah banyak yang komplain dan mengeluh ke polisi. “Sebenarnya, mereka sudah ditindak secara persuasif oleh Bhabinkamtibmas Loktuan, namun bukannya dilakukan malah justru mengancam akan tetap memungut uang dari para pengendara yang keluar dari Pelabuhan Loktuan,” jelas Rihard saat ditemui di ruangannya, Jumat (12/5) kemarin.

Menanggapi laporan masyarakat tersebut, polisi melakukan pengintaian. Bahkan saat sedang menyelidiki, Rihard mengatakan,  anggotanya sempat melihat ada satu mobil yang lewat namun tidak bayar sampai dikejar oleh Kaseng.

Sempat terjadi adu mulut, hingga akhirnya sopir membayarnya dan langsung berlalu. “Kamis (11/5) kemarin itu kebetulan 2 kapal yang masuk ke Pelabuhan Loktuan, saat kapal pertama masuk memang belum kami tindak, tujuannya agar barang bukti hasil pemerasannya banyak,” ungkap dia.

Namun ternyata, ketika kapal kedua masuk, dan penjemput penumpang kapal sudah mulai keluar pelabuhan, barulah polisi menindaknya sekira pukul 14.40 Wita. Sempat terjadi perlawanan dari 2 orang preman, hingga anggota kepolisian harus bekerja ekstra. “Ada 2 orang yang melawan, namun tidak sampai terjadi kontak fisik,” ujarnya.

Keterangan sementara, kelompok premanisme tersebut diduga telah melakukan aksi pemerasan dengan ancaman sejak tahun 2015. Mereka memungut lebih besar dari pungutan masuk resmi oleh PT Pelindo IV Cabang Bontang.

Pungli pun dilakukan secara paksa sehingga para korban dengan terpaksa membayar walaupun sudah komplain karena merasa telah membayarnya di pintu masuk. “Bahkan, yang keberatan membayar, ban mobil mereka ditendang oleh preman-preman tersebut,” imbuh dia.

2 dari 4 tersangka pun, ditemukan barang bukti berupa sebilah badik panjang dan sebilah badik pendek. Uang atau barang bukti yang berhasil diamankan sebesar Rp 518 ribu yang dikumpulkan di salah satu tersangka untuk kemudian dibagikan setelah semua pengendara keluar.

“Ini masih dalam proses penyidikan dan pengembangan, karena dikhawatirkan terjadi pencucian uang. Makanya kami masih menelusuri masing-masing rekening tabungannya,” bebernya.

Dari info yang didapat Rihard, uang yang dihasilkan dari memeras, masing-masing hanya mendapat Rp 50 ribu sementara sisanya semua masuk ke kantong Kaseng, sang koordinator.

Atas perbuatannya, keempatnya diduga melanggar Pasal 368 jo 55 KUHP tentang Pemerasan dan Pengancaman dengan pidana 9 tahun penjara. Sementara 2 tersangka yang membawa badik dikenakan pasal berlapis yakni Pasal 368 jo 55 KUHP dan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat nomor 12 tahun 1951 atas dugaan membawa senjata tajam, maka ancaman pidana paling lama 10 tahun.(mga)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button