Bontang

Wacanakan Sistem Online Terkait Penjualan Tiket KM Queen Soya, Komisi III Bakal Panggil Dishub 

BONTANG – Kenaikan harga tiket KM Queen Soya saat arus mudik lalu membuat Komisi III DPRD angkat suara. Komisi III DPRD akan mempelajari temuan berkaitan dengan kejadian tersebut. Melalui Ketua Komisi III DPRD Rustam HS mengatakan, ada dua faktor yang bisa menyebabkan naiknya harga tiket beberapa hari sebelum Lebaran tersebut, yakni faktor pelanggaran pada ticketing-nya atau karena ada calo.

“Kami pelajari terlebih dahulu, kalau ini masalah ticketing-nya kami akan panggil pihak Dinas Perhubungan (Dishub) untuk meminta penjelasan dari mereka,” katanya.

Rustam HS menjelaskan, terkait keluhan penumpang yang berkenaan dengan fasilitas penumpang yang didapatkan tidak sesuai dengan tarif tiket merupakan situasi klasik. Kejadian seperti tersebut bukan hanya terjadi pada masa sekarang saja, melainkan pada sejak dulu sudah terjadi. Hal tersebut diperparah apabila kondisi jumlah penumpangnya melebihi kuota penumpang (over). Menurut pria yang menjabat juga sebagai Sekretaris Fraksi Golongan Karya ini ialah adanya beberapa pihak yang memanfaatkan situasi tersebut. Oleh karena itu, ia berharap kepada segenap warga untuk tetap membeli tiket melalui loket agar meminimalisir terjadinya ketidaksesuaian tarif dengan fasilitas yang didapat.

“Ada oknum yang bermain, sedangkan penumpang membutuhkan tiket untuk pulang kampung. Maka dari itu saya mengimbau kepada penikmat transportasi laut untuk tidak membeli tiket di calo,” tambahnya.

Sementara itu pihak Dishub akan mengupayakan penjualan tiket KM Queen Soya secara online. Penjualan dengan sistem tersebut akan mempermudah masyarakat untuk mendapatkan tiket. Langkah ini diambil Dishub dikarenakan kesulitan untuk menertibkan para calo tersebut. Hal ini dipaparkan oleh Kabid Perhubungan Laut dan Udara Sjafruddin.

“Sulit menertibkan calo karena mereka membentuk sebuah jaringan. Kami usahakan penjualan tiket dilakukan online supaya penumpang jangan sampai dirugikan,” ujarnya.

Menurutnya ketidaksesuaian antara harga tiket dengan fasilitas yang didapatkan penumpang pada pemudik beberapa waktu lalu sifatnya relatif berdasarkan selera penumpang. Faktor penuhnya penumpang di dek kapal dan cuaca menjadi hal yang sering ditemukan.

“Ada masyarakat yang terbiasa diluar karena merasakan angin segar, sementara jika di dalam kondisi udara pengap karena pendingin ruangan tidak mampu dikarenakan jumlah penumpang yang terlalu banyak,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan  keberangkatan KM Queen Soya pada Jumat (23/6) lalu menyisakan keluhan para penumpang yakni seputar harga tiket dengan fasilitas yang tidak sesuai. Salah satunya dirasakan oleh Andi Nur (32), penumpang yang berasal dari Sangatta. Ia sudah berada di Pelabuhan Loktuan sejak Kamis (22/7) untuk memperoleh tiket. Nasib pilu dialami setelah mengetahui bahwa harga tiket ekonomi yang dibeli terdapat coretan.

“Tiket saya sebenarnya seharga Rp 245.000 tetapi ada coretan menjadi Rp 365.000. Lokasi dek yang saya dapatkan yakni dekat musala kapal, tepatya bagian dek terbuka atas kapal,” terangya.

Kondisi lebih mengenaskan dialami oleh beberapa remaja dari sebuah organisasi di Sangatta. Bagaimana tidak, lokasi ruang Anak Buah Kapal (ABK) diperdagangkan kepada masyarakat umum. Sementara tiap orang dikenai harga tiket sesuai dengan tarif ekonomi.

“Tiap orang membayar Rp 395.000, tetapi kami ditempatkan di kamar yang hanya memuat dua orang saja. Sementara jumlah anggota kami tiap kamar 15 orang, bagaimana kami bisa melakukan istirahat dengan luas ruangan 2×3 meter saja,” keluh koordinator organisasi tersebut yang enggan dipublikasikan. (*/ak)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button