Feature

Suka Pekerjaan Sosial di Lapangan, Getol Suarakan Hak-hak Perempuan

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Rina Megawati Harsono (129)

Perempuan Bontang harus cerdas. Kalimat itulah yang selama ini dikampanyekan Rina Megawati Harsono. Ketika pemudi seusianya sibuk merawat kecantikan wajah dan tubuh, Rina justru akrab bergelut dengan debu dan terik matahari.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Panasnya Kota Taman bukan penghalang bagi Rina untuk menjalankan tugasnya sebagai pekerja sosial di Kota Taman. Karena dia memang lebih menyukai pekerjaan di lapangan ketimbang pekerjaan kantoran. Walaupun sebenarnya dia sudah memiliki usaha sendiri yang bergerak di bidang travel di bawah nama CV Borneo Mega.

“Sejak kuliah saya sudah merintis usaha travel penjualan tiket pesawat. Waktu itu masih sebatas lewat ponsel. Kalau sekarang sudah ada kantornya sendiri, saya direkturnya,” cerita Mega kepada Bontang Post.

Meski usahanya ini menjanjikan, namun toh tidak membuat Rina betah standby di kantor. Dia merasa bosan dan mulai mencari rutinitas lain. Karenanya ketika ada lowongan pendamping kelompok usaha bersama (Kube) dari Kementerian Sosial (Kemensos) Agustus 2016, dia pun iseng mencobanya.

“Tidak menyangka lulus dan diterima. Pengumumannya bulan September dan langsung mengikuti pelatihannya di Jogjakarta,” kenangnya.

Sejak saat itu anak kedua dari tiga bersaudara ini aktif mendampingi warga-warga kurang mampu yang tergabung dalam Kube di Bontang. Dia turut terjun dalam berbagai kegiatan Kube, mulai dari pendampingan proses produksi, pelatihan, hingga pemasaran. Bahkan dia juga turut menawarkan produk-produk buatan Kube dari satu toko ke toko yang lain.

“Jadi ya sudah seperti sales saja. Saya titipkan produk-produk itu di berbagai tempat agar bisa semakin dikenal masyarakat. Sebagai pendamping, saya dituntut kreatif dalam memperkenalkan produk-produk buatan Kube,” kata Rina.

Setelah program rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni (RTLH) masuk ke Bontang, Rina ikut turun mengawal program ini. Bersama pekerja-pekerja sosial lainnya, dia terjun ke berbagai daerah di Bontang untuk memastikan program ini berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah dia kerap mendapat tekanan dari masyarakat yang merasa tidak puas dengan program ini.

“Sebagai pekerja sosial, saya rasakan langsung betapa susahnya menghadapi masyarakat. Saya harus sabar menghadapi mereka, khususnya mereka yang tidak mau tahu dengan mekanisme program ini. Tapi ini sudah jadi amanah dan tanggung jawab saya, jadi harus saya jalankan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Dara yang 12 Januari mendatang merayakan hari jadinya ke-25 tahun ini mengaku sudah gemar terjun ke masyarakat sejak bangku kuliah di STMIK dipanegara Makassar. Katanya, saat kuliah dulu dia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Di antaranya Badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di kampusnya, serta Himpunan Mahasiswa Bontang (HMB). Dari situlah dia memahami berbagai kondisi sosial yang terjadi di masyarakat.

Khususnya terkait perlindungan dan pemberdayaan perempuan, yang menurutnya saat ini masih membutuhkan perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah. Dari keaktifannya di organisasi, dia banyak belajar tentang kaum perempuan. Bukan sekadar belajar, sejak kuliah dia sudah terlibat langsung mendampingi perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan.

“Saya beberapa kali aktif dalam kegiatan advokasi perempuan. Pernah juga saya terlibat dalam program advokasi perempuan di THM kawasan Prakla,” sebut Rina.

Setelah lulus kuliah di tahun 2015, Rina memutuskan kembali ke Bontang. Padahal, di Makassar dia sempat mendapat tawaran bekerja serta tawaran beasiswa pascasarjana. Akan tetapi kecintaannya kepada tanah kelahiran membuatnya lebih memilih ke Bontang. Karena menurutnya, Bontang masih membutuhkan putra-putra daerahnya untuk berkembang.

“Pemikiran saya waktu itu, buat apa saya besar di kota lain bila kota sendiri masih membutuhkan. Apalagi saya ini putri daerah. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ungkapnya.

Rina melihat adanya krisis figur pemuda di Bontang. Apalagi yang menyuarakan tentang hak-hak perempuan. Sementara organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada berbagai kampus dinilainya kurang aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat. Karenanya, dia pun mulai mendatangi rekan-rekannya di berbagai kampus yang ada di Bontang dan melakukan diskusi untuk menggerakkan kembali organisasi-organisasi mahasiswa tersebut.

“Alhamdulillah kini banyak organisasi yang sudah mulai aktif bergerak. Salah satunya kegiatan Bontang Lawyers Club beberapa waktu lalu. Saya memang ingin menggerakkan pemuda-pemudi di Bontang agar lebih aktif lagi berperan di masyarakat melalui kegiatan-kegiatannya,” urai perempuan yang pernah bergabung dalam Srikandi Hanura dan Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) ini.

Menurut Rina, perempuan Bontang harus lebih mandiri dan lebih aktif. Perempuan bukan sekadar objek dengan ruang kerja yang akrab dikenal dengan istilah “dapur, sumur, kasur”. Melainkan juga ikut berperan dalam pembangunan di masyarakat. Dia menilai, saat ini masih sedikit pemudi Bontang yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan, khususnya dalam pemberdayaan perempuan.

“Saya sangat sensitif terhadap isu-isu perempuan. Saya sering menangis bila melihat ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Buat saya perempuan itu harus cerdas. Karena itu saya usahakan sekolah agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup perempuan,” tegas Rina.

Karenanya Rina getol bergerak menyuarakan hak-hak perempuan. Tak jarang dia turun aksi dalam berbagai kesempatan. Mulai dari aksi di hari perempuan sedunia serta di hari anti korupsi. Dia prihatin terhadap pemudi-pemudi Bontang yang hanya memikirkan tentang kecantikan dan pekerjaan sehingga enggan berbuat bagi masyarakat. Padahal menurutnya, kecantikan itu relatif dan tidak dilihat dari paras wajah.

“Tidak masalah buat saya walaupun kulit saya menghitam. Yang penting pekerjaan saya di bidang sosial bisa selesai. Buat saya, sebaik-sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena kecantikan fisik itu dimakan zaman, sementara ilmu yang bermanfaat itu dibawa sampai mati,” kata lajang yang mengaku belum punya kekasih ini.

Rina mengaku merasakan kebahagiaan tersendiri bila bisa membantu orang lain. Khususnya dalam perannya sebagai pendamping Kube. Dia senang bisa mendampingi kaum ibu dalam kegiatan usaha sehingga kini sudah tidak bergantung pada penghasilan suami. Meski begitu perjalanannya sebagai pekerja sosial bukan tanpa halangan. Dia sempat dimarahi orangtuanya karena seringkali pulang malam.

“Keluarga saya sempat marah karena saya pulangnya malam. Namanya pekerja sosial pekerjaannya memang 24 jam, kapanpun dibutuhkan harus selalu siap,” tandas pehobi travelling ini. (bersambung)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button