Feature

Melihat Perajin Sumpit Tradisional di Kota Taman

Dikerjakan Sepuluh Hari, Dijual Sampai ke Kutai Barat

Bukan hanya berjaya dalam olahraga tradisional sumpit, Bontang juga memiliki para perajin sumpit tradisional Kalimantan. Salah satunya Mustakim, kakek tujuh cucu yang sehari-hari menjadi tenaga pengaman di Satpol PP Bontang.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Membuat sumpit standar untuk olahraga tradisional sumpit bukanlah hal mudah. Hal ini diakui oleh Mustakim. Walaupun memiliki pengalaman bertukang, butuh waktu satu tahun hingga dia akhirnya benar-benar mampu menghasilkan sumpit berkualitas yang layak untuk event perlombaan.

“Saya belajar membuat sumpit sejak 2012. Saya belajar dari perajin yang sudah lebih dulu ada di Bontang. Para perajin di Guntung. Kebetulan saya aktif dalam olahraga sumpit,” ujar Mustakim saat ditemui media ini di kediamannya di Jalan DI Panjaitan, Sabtu (21/1) kemarin.

Kesulitan pembuatan sumpit menurut Mustakim dimulai sejak persiapan bahan. Bahan utama untuk pembuatan sumpit yaitu batang kayu kapur atau kayu ulin misalnya, harus benar-benar kering sebelum diproses lebih lanjut menjadi sumpit. Karena bila tidak, kayunya bisa bengkok saat dipahat sedemikian rupa. “Kayunya harus dikeringkan terlebih dulu. Proses pengeringannya bisa memakan waktu setengah bulan,” urainya.

Setelah benar-benar kering, barulah kayu tersebut diluruskan. Dengan panjang sekitar 2 meter, kayu dipahat membentuk sumpit panjang. Kayu tersebut lantas dilubangi memanjang bagian dalamnya dari ujung ke ujung menggunakan bor. Setelah berlubang di bagian dalamnya, dimasukkan pipa cubing.

Lantas dilakukan proses pembubutan untuk memasangkan bahan stainless yang menjadi tempat meniup peluru sumpit.“Proses pembubutannya ini yang susah,” sebut Mustakim.

Setelah sumpit selesai dibuat, barulah diperhalus dan diukir sedemikian rupa untuk menjadikannya terlihat menarik. Biasanya, Mustakim membutuhkan waktu 10 hari untuk bisa menghasilkan satu sumpit. Harga satu sumpitnya bervariasi tergantung ukuran. Dengan modal Rp 700 ribu, Mustakim rata-rata bisa mengantongi sekitar Rp 2 jutaan untuk satu sumpit.

“Selain proses pembuatannya yang rumit, bahan-bahannya juga sulit didapat. Untuk cubing misalnya, saya datangkan dari Samarinda. Karena di Bontang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Harga tersebut sudah lengkap dengan 10 peluru berikut tempatnya,” ungkapnya.

Mustakim mengaku, tidak secara rutin membuat sumpit. Melainkan baru membuat sumpit bila ada orang yang memesan kepadanya. Pernah dalam sebulan dia bisa mengerjakan 15 sumpit. Pesanan sumpit bukan hanya datang dari Bontang, melainkan juga dari daerah-daerah lain di Kaltim seperti Kutai Timur bahkan Kutai Barat.

“Bontang memang dikenal sebagai juara dalam olahraga tradisiopnal sumpit. Makanya banyak peggiat olahraga ini yang memesan sumpit ke Bontang. Peluru yang ukurannya lebih besar jadi keunggulan sumpit Bontang,” jelas pria kelahiran Mamuju, 54 tahun lalu ini.

Dalam pembuatan sumpit, saat ini Mustakim memang baru sebatas menerima pesanan. Dia belum melakukan penjualan secara massal. Dia pun tidak melakukan kegiatan promosi khusus dalam memasarkan sumpit buatannya. Melainkan hanya dari mulut ke mulut di kalangan rekan-rekannya sesama peggiat olahraga tradisional sumpit.

“Keinginan untuk dijual secara missal itu ada. Saat ini masih penjajakan. Yang terpenting memperkenalkan olahraga ini lebih luas lagi ke masyarakat Bontang terlebih dahulu,” pungkas Mustakim. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button