Kaltim

Tewasnya Noviandi Masih Misteri, Tunggu Gelar Perkara, Keluarga Korban Tak Hadir 

 

“Artinya kami ikuti proses hukum yang sudah berjalan. Kami tidak bisa intervensi proses yang sedang berjalan karena di sini (DPRD, Red.) bukan pengadilan. Kami akan sampaikan kepada pihak kuasa hukum maupun keluarga korban, bahwa proses sedang berjalan, tinggal menunggu gelar perkara”

Josep Ketua Komisi I DPRD Kaltim

“Kami sudah memeriksa saksi-saksi. Keseluruhannya sebanyak 26 saksi. Termasuk di antaranya saksi ahli dari ahli hukum pidana, serta ahli SOP (standard operating procedure). Penelitian forensik dan pengecekan ke lokasi juga telah kami lakukan”

Budi Santoso Wadireskrimum Polda Kaltim

SAMARINDA – Penyelidikan kasus penembakan yang menewaskan terduga kasus narkoba, La Ode Noviandi oleh petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim, tinggal menunggu proses gelar perkara. Hal ini terungkap dalam pertemuan Komisi I DPRD Kaltim dengan jajaran Polda Kaltim, Selasa (21/3) kemarin.

Pertemuan ini dilakukan agar komisi I dapat mengetahui sejauh mana proses penyelidikan kasus tewasnya Noviandi yang terjadi Desember tahun lalu.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadireskrimum) Polda Kaltim, AKBP Budi Santoso yang hadir dalam pertemuan tersebut menuturkan, pihaknya telah melakukan penyelidikan terhadap kasus penembakan tersebut sejak Januari. Menindaklanjuti penanganan yang dilakukan Polresta Samarinda sebelumnya.

“Kami sudah memeriksa saksi-saksi. Keseluruhannya sebanyak 26 saksi. Termasuk di antaranya saksi ahli dari ahli hukum pidana, serta ahli SOP (standard operating procedure). Penelitian forensik dan pengecekan ke lokasi juga telah kami lakukan,” papar Budi.

Tentang tudingan pihak kepolisian tidak terbuka kepada keluarga korban, Budi menyebut kemungkinan terjadi miskomunikasi. Pasalnya, sudah menjadi kewajiban bagi penyidik untuk memberikan laporan mengenai perkembangan kasus kepada keluarga korban.

“Kami sudah berikan pemberitahuan kepada pihak pelapor, dalam hal ini keluarga korban,” tambahnya.

Dijelaskan, bahwa korban Noviandi sebelumnya sempat terseret hukum dan ditahan atas suatu kasus. Korban lantas dibebaskan secara bersyarat. Setelah bebas, korban diduga mengedarkan narkoba.

BNNP lantas melakukan penangkapan, namun terjadi perlawanan hingga melukai petugas. “Ada lima tikaman. Sampai sekarang ini, petugas bersangkutan masih lumpuh,” urainya.

Penembakan itu sendiri terjadi ketika Noviandi diminta mencari temannya yang ikut terlibat dalam peredaran narkoba. Saat itulah korban lari dan petugas terpaksa melakukan penembakan. Diduga, timah panas aparat itulah yang menyebabkan kematian korban.

“Polisi beranggapan korban sebagai ancaman yang berbahaya, sehingga melakukan penembakan,” ungkap Budi.

Dalam proses penyelidikan yang dilakukan, diketahui bahwa petugas telah melakukan penembakan sesuai prosedur yang berlaku. Namun begitu Polda Kaltim saat ini menunggu hasil gelar perkara yang akan menentukan arah kasus ini. Yaitu apakah masuk dalam Pasal 50 atau 51 KUHP terkait penghapusan pidana.

“Petugas yang melakukan tugas dan kewenangannya tidak dapat dihukum,” sebutnya.

Sementara itu ketua Komisi I DPRD Kaltim, Josep menyatakan, pertemuan dengan Polda Kaltim ini merupakan tindak lanjut dari penyampaian aspirasi yang dilakukan keluarga Noviandi kepada DPRD Kaltim. Karena sebagai wakil rakyat, aspirasi dari masyarakat harus dijembatani.

Namun begitu, dia menyayangkan pihak keluarga korban tidak datang dalam pertemuan kemarin, untuk mendengarkan penjelasan dari Polda Kaltim.

“Sayang sekali keluarga korban tidak hadir dalam pertemuan ini karena alasan waktu yang mepet. Selain itu kuasa hukum keluarga korban juga sedang umrah, sehingga tidak bisa hadir,” kata Josep.

Namun begitu komisi I nantinya akan tetap menyampaikan keterangan dari Polda Kaltim kepada keluarga korban, serta kuasa hukumnya. Dalam hal ini DPRD Kaltim tidak bisa mengintervensi proses penyelidikan yang tengah berlangsung. Sebatas mempertemukan kedua belah pihak.

“Artinya kami ikuti proses hukum yang sudah berjalan. Kami tidak bisa intervensi proses yang sedang berjalan karena di sini (DPRD, Red.) bukan pengadilan. Kami akan sampaikan kepada pihak kuasa hukum maupun keluarga korban, bahwa proses sedang berjalan, tinggal menunggu gelar perkara,” kata Josep.

Menurutnya, itu semua merupakan kewenangan Korps Bhayangkara. “Keputusan apa dari gelar perkara nanti merupakan wewenang Polda,” tegas politisi Gerindra ini.

Sekadar diketahui, setelah dijemput BNNP, Noviandi sempat dibawa anggota untuk menunjukkan kediaman rekannya di kawasan Samarinda Seberang. Entah apa yang menyebabkan empat peluru bersarang di dua kaki Noviandi. Dua di lutut kiri, satu di lutut kanan, dan satu di betis kiri. Semua peluru tembus. (luk)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button