Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Samarinda

Desa Mulawarman, Daerah Transmigrasi yang Terancam Punah, Relokasi Harga Mati

Published

on

Dibaca normal 7 menit

 

Siapa yang tak tahu legenda Atlantis. Diceritakan filsuf Yunani bernama Plato dalam buku berjudul Timaeus dan Critias, benua tersebut hilang dari peradaban. Terlepas dari kontroversi cerita tersebut, kejadian nyaris serupa juga mengancam Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Guntur Marchista Sunan

Berbeda dengan Atlantis yang ditulis hilang ditelan laut, Desa Mulawarman malah terancam hilang akibat penambangan batu bara. Desa yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Samarinda itu dikepung perusahaan pengeruk emas hitam.

Tak tanggung-tanggung, jaraknya hanya beberapa meter dari lubang tambang.

Ingatan Mulyono masih kuat. Kepala Desa (Kades) Mulawarman itu menceritakan, pada tahun 1981 silam, wilayahnya ditetapkan sebagai daerah transmigrasi. Awal dibuka, 263 kepala keluarga (KK) yang berstatus transmigran hijrah dari Pulau Jawa ke Kalimantan.

Di desa tersebut, mereka dijatah lahan untuk bertani dan bercocok tanam. Setiap KK mendapat lahan untuk digarap. Luasnya sekitar 560 hektare. Mulai bercocok tanam sejak 1982, desa tersebut menjadi lumbung padi di Kabupaten Kutai (sekarang Kukar).

“Dulu produksinya sampai 5 ton per hektare,” kata Mulyono, usai menerima kunjungan Gubernur Kaltim, H Awang Faroek Ishak, Selasa (18/4) kemarin.

Masa keemasan Desa Mulawarman sebagai desa agraris perlahan sirna mulai tahun 2002. Dikepung dua perusahaan batu bara, PT Kayan Putra Utama Coal (KPUC) dan PT Jembayan Muara Bara (JMB), lahan yang dulunya untuk menghasilkan padi sudah tidak subur lagi.

“Lama-lama, limbah perusahaan mencemari sawah. Pada tahun 2008, kami mendemo BLH (Badan Lingkungan Hidup). Setelah dicek, ternyata limbah batu bara masih dalam ambang batas. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami tidak punya bukti. Namun kami merasakan dampaknya,” terang Mulyono.

Sebelumnya1 dari 6 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments