Breaking News

Dw Penelantaran Bayi di RS Kudungga, Ternyata Dicabuli Ayahnya sejak 2015

SANGATTA – Setelah melakukan penyelidikan selama dua hari, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kutim akhirnya berhasil mengungkap kasus penelantaran bayi yang kini berumur 40 hari di RSUD Kudungga Sangatta. Pelakunya adalah AF (41), yang tak lain merupakan ayah kandung korban. Pelaku ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Samarinda, Senin (17/4) lalu.

“AF kami tangkap di Palaran, Samarinda bersama sang ibu bayi, di sebuah rumah kontrakan. Pelaku AF langsung kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Kapolres Kutim AKBP Rino Eko didampingi Kasat Reskrim AKP Andhika Darma Sena, Rabu (19/4) kemarin.

Sedangkan untuk ibu bayi, Dw (16), lanjut dia, hanya berstatus saksi. Sebab, merupakan korban kasus tindak kejahatan seksual yang dilakukan AF yang merupakan ayah kandungnya sendiri.

“Bayi yang dilahirkan Dw itu akibat perbuatan asusila yang dilakukan pelaku selama beberapa tahun. Saat lahir, dibantu dengan bidan di rumahnya. Namun kondisi bayi ternyata prematur. Sehingga harus dilarikan ke RSUD. Nah, diduga karena malu dan tidak ada biaya untuk menebus pengobatan, AF langsung mengajak ibu bayi pergi,” jelasnya.

Disinggung alasan tersangka tega menggauli putrinya sendiri, lanjut Andhika, karena hasrat seksualnya yang tidak dapat terbendung sejak bercerai dengan istrinya beberapa tahun lalu. Sehingga, setelah Dw yang putus sekolah memilih ingin tinggal bersama AF, pada 2013 membuatnya gelap mata.

“Nah awalnya pelaku memaksa Dw agar mau melayani hasrat seksualnya. Namun ditolak. Tapi, setelah diancam, korban yang masih lugu akhirnya tidak bisa menolak. Dan hubungan itu terus berlanjut, sampai akhirnya Dw hamil dan melahirkan Maret 2017 lalu,” sebut Andhika.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (1), (2), (3), Juncto Pasal 76 huruf d Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 82 Jo pasal 76 huruf d karena melakukan tipu muslihat untuk dapat berhubungan badan dengan korban. Ancaman pidananya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun kurungan penjara dan denda Rp 5 miliar.

“Selain itu, juga kami tambah dengan hukuman kebiri sesuai Perpres,” paparnya.

Setelah dirawat selama beberapa hari bersama bayinya di RSUD Kudungga, Dw yang sudah sehat meminta izin pulang, sedangkan sang bayi ditinggal, karena masih dalam perawatan. Namun, setelah beberapa hari, Dw tak kunjung kembali mengambil buah hatinya serta melunasi kewajibannya sebesar Rp 11 Juta.

Karena Dw tak kunjung datang, RSUD Kudungga pun menyerahkan masalah perawatan bayi terlantar itu ke Dinas Sosial Kutim. Selain itu, kasus pelantaran bayi ini juga dilaporkan ke Polres Kutim. Berdasarkan laporan inilah, polisi kemudian melakukan penyelidikan hingga akhirnya menangkap AF.

***

PERBUATAN AF (42) yang tega mencabuli putri kandungnya hingga berkali-kali memang di luar akal sehat. Bahkan perbuatan tersebut sudah dilakukan sejak 2015, hingga akhirnya korban mengandung dan melahirkan bayi laki-laki dari hasil hubungan gelap tersebut, 10 Maret 2017 lalu. Padahal, korban seharusnya dijaga dan dibesarkan agar dapat meraih masa depan yang lebih baik.

Kepada wartawan, AF mengaku perbuatan itu terpaksa dilakukannya, karena tidak dapat membendung hasrat seksualnya. Mengingat, ibu dari Dw, putri ketiganya tersebut telah bercerai sejak 2013.

“Saya mengaku salah pak. Saya pasrah dihukum apapun, karena berani berbuat harus berani bertanggungjawab,” aku AF.

Dia menceritakan, setelah resmi bercerai, dirinya kemudian tinggal seorang diri di Samarinda. Namun pada 2013, mantan istrinya yang sudah menikah lagi tersebut kemudian menyerahkan tiga anak dari hasil pernikahan dengannya.

“Nah, saat itu dia (Dw) milih mau tinggal sama saya. Sedang dua adeknya, dititip ke keluarga,” ujarnya.

Lantas, karena himpitan ekonomi, aku AF, membuat Dw yang lulus Sekolah Dasar (SD) tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Alhasil, Dw hanya tinggal di rumah yang dikontrak AF.

“Karena dia sudah mulai remaja, pikiran kotor terus mendorong saya untuk melampiaskan nafsu ke dia. Akhirnya, pada 2015 saya tanya-tanya, mau tidak. Awalnya tidak mau, tapi setelah saya bujuk akhirnya mau,” kata AF, yang hanya bisa menunduk.

Setelah itu, lanjut dia, terus berjalan sampai Dw hamil. Karena merasa malu dan usia kandungan Dw sudah besar dirinya pun memutuskan pindah dari Samarinda menuju Sangatta Selatan Kutim.

“Setelah tinggal beberapa lama, dia akhirnya melahirkan. Saat lahiran, hanya dibantu bidan untuk memotong tali pusar. Tapi kata bidan, bayinya prematur jadi harus dirawat. Karena kasihan, makanya langsung saya suruh bawa ke RSUD untuk dirawat sama ibunya. Tapi, karena tidak ada biaya, setelah dia (Dw) sehat langsung saya ajak pergi ke Samarinda,” paparnya. (aj)

Kasus Pencabulan dan Penelantaran Bayi

  • AF dan istrinya resmi bercerai pada tahun 2012
  • Mantan istri AF menyerahkan tiga anak mereka untuk dirawat. Oleh AF, dua diantarnya diserahkan ke keluarga. Sedangkan, Dw memilih ingin tinggal dengan sang ayah pada Tahun 2013.
  • Tahun 2015, himpitan ekonomi membuat AF tidak dapat melanjutkan pendidikan Dw. Karena, usia Dw yang mulai beranjak remaja, membuat birahinya pun muncul. Dw yang masih lugu, kemudian diajak dan dipaksa berhungan badan. Seringnya huDwn itu dilakukan, membuat Dw pun tak dapat menolak permintaan AF setiap kali diajak.
  • Akhirnya akibat huDwn gelap tersebut, Dw yang putus sekolah, berbadan dua pada tahun 2016. Merasa malu, AF pun memutuskan pindah ke Sangatta Kutim.
  • Anak hasil huDwn terlarang keduanya lahir prematur di rumahnya pada 10 Maret 2017 . Untuk membantu persalinan, AF pun memanggil bidan. Namun, karena kondisi bayi yang lemah karena hanya memiliki berat 1,7 kilogram dan kondisi Dw yang juga harus mendapat pemulihan, diputuskan untuk merujuk ke RSUD Kudungga. Setelah, Dw sehat, AF langsunh mengajaknya pergi ke luar Sangatta. Selain karena tak punya biaya, malu juga jadi alasan pelaku kabur.
  • Karena tak kunjung mendapatkan kepastian tentang nasib bayi yang ditinggal orang tuanya, managemen RSUD berkoordinasi dengan Dinas Sosial pada 12 April 2017. Hasilnya, bayi tersebut untuk sementara dirawat pemerintah. Sementara, kasus penelantaran tersebut juga dilaporkan ke Polres Kutim. Setelah menerima laporan, polisi langsung melakukan penyelidikan untuk mencari dimanakah keberadaan orang tua bayi.
  • Keberadaan pelaku akhirnya terlacak di Samarinda. Polisi langsung mencari pelaku pada 15 April 2017.
  • Pelaku pun ditangkap di sebuah rumah kontrakan di daerah Palaran Samarinda pada 17 April 2017. Kini pelaku tengah menjalani proses penyidikan di Mapolres Kutim dan terancam pasal berlapis.

Sumber data Satreskrim Polres Kutim

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button