Breaking News

Jelang Ramadan Elpiji 3 Kg Masih Langka, Harga Jual Tembus Rp 30 Ribu

SANGATTA – Beberapa hari jelang Ramadan, tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram masih sulit dicari. Kalau pun ada, jumlahnya terbatas. Dari pantauan media ini, di beberapa pangkalan terlihat antrean panjang warga untuk mendapatkan tabung yang dikenal warga dengan sebutan ‘gas melon’ tersebut.

Wahyu (34) salah seorang warga mengaku sudah antre sejak pukul 06.00 Wita di salah satu pangkalan elpiji 3 kg di Jalan Yos Sudarso III, Kamis (25/5) kemarin. Pasalnya, dirinya sudah berkeliling ke sejumlah tempat, namun tak ada yang memiliki stock elpiji 3 kg.

“Susah carinya mas. Sudah sebulanan ini langka. Enggak tahu penyebabnya apa. Apalagi sebentar lagi mau Ramadan. Kalau terus langka seperti ini, kan repot juga,” ucap Wahyu.

Meski sudah ikut mengantre, lanjut dia, tabung gas elpiji yang bisa didapatnya hanya satu. Padahal, dirinya sengaja membawa dua buah tabung, yang rencananya dipakai sebagai cadangan untuk kebutuhan selama Ramadan.

Sementara, Budi (42) warga Teluk Lingga mengaku, selain langka, harga tabung gas elpiji 3 kg juga mulai naik. Bahkan, di beberapa tempat ditemukan harga jualnya Rp 30 ribu pertabung. Padahal normalnya, harga jual hanya Rp 23 hingga Rp 25 ribu pertabung ditingkat pengecer. Sementara ditingkat pangkalan Rp 18 ribu pertabung.

“Yah rata-rata harganya naik mas. Paling tinggi Rp 30 ribu. Tapi, ada juga yang masih jual Rp 26 ribu per tabung,” sebut Budi.

Lain halnya, dengan Siska (32) pedagang sembako di Jalan Yos Sudarso I, yang mengaku semua tabung elpiji 3 kg miliknya sudah kosong sejak sepekan lalu. Meski sudah memesan agar dikirimkan pasokan elpiji 3 kg, namun hingga kemarin belum ada.

“Alasannya, stock pengiriman dibatasi. Ada isu, katanya elpiji 3 kg ini mau dikurangi dan diganti tabung elpiji pink ukuran 5 kg yang sudah beredar di pasaran. Tapi saya belum tahu isu itu benar atau tidak,” kata Siska.

Memang, lanjut dia, selama ini kehadiran gas elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah, diperuntukan bagi warga kurang mampu. Namun praktek di lapangan banyak di salah gunakan. Bahkan digunakan untuk pelaku usaha yang harusnya menggunakan elpiji 12 kg.

“Kami yang jual juga susah kalau mau ngelarang. Meski tahu elpiji melon itu dijual untuj warga yang kurang mampu,” sebutnya.

Siska pun berharap, pemerintah bisa mencari solusi untuk mengatasi masalah krisis elpiji 3 kg ini. (aj)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button