Bontang

Orang Tua Minta Panitia PPDB Tak Tebang Pilih

Dalam prosesi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, orang tua pasti mengharapkan anaknya bisa bersekolah di sekolah yang didambakan. Hanya saja, terkadang keinginannya tersebut terhalang beberapa faktor.

Apalagi tahun ini, mekanisme PPDB yang diterapkan berbasis online dan diprioritaskan berdasarkan zonasi. Sehingga bila wilayah tempat tinggalnya tidak masuk dalam zonasi sekolah yang sudah dipetakan pemerintah, akan sulit untuk diterima di sekolah tersebut

Seperti yang dialami Sulaiman, salah satu orang tua murid. Dia menceritakan, jika dirinya saat ini tinggal sekira 200 meter dari SMAN 2. Hanya saja, saat ingin mendaftarkan anaknya bersekolah di SMAN 2, berkasnya justru tidak memenuhi syarat yang ditentukan.

Penyebabnya, Kartu Keluarga (KK) yang dia miliki baru diterbitkan dan kurang dari enam bulan.  “Tetapi saya benar tinggal dan membeli rumah di dekat SMAN 2. Surat pindah dan pergantian alamat pun sudah saya urus sejak Januari lalu,” sebutnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua panitia PPDB, Sumariyah yang juga Kepala SMAN 2 mengatakan, berdasarkan aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) RI nomor 17 tahun 2017 pasal 15 poin 2 serta Petunjuk Teknis (Juknis) PPDB 2017 pasal 16 poin 2, domisili calon peserta didik yang diterima yakni berdasarkan alamat pada Kartu Keluarga (KK) yakni diterbitkan paling lambat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

“Sehingga kalau baru diterbitkan Januari, baru bisa berlaku enam bulan setelahnya, yakni Juli. Kalau masih Juni seperti saat ini, sesuai aturan tidak bisa,” jelasnya.

Mendengar penjelasan tersebut, Sulaiman pun legawa. Kendati demikian, dirinya meminta agar dalam aturan tersebut benar-benar dijalankan dan tidak tebang pilih.

“Jangan sampai satu orang ditolak, tetapi orang lain justru dimasukkan begitu saja. Intinya semuanya harus melewati aturan yang sama,” tegasnya.

Hal senada juga diharapkan Jumi, salah satu orang tua yang mendaftarkan anaknya di SMAN1. Dia berharap, dengan diberlakukannya sistem PPDB berbasis online ini, bisa menghilangkan “titipan” yang selama ini masih membudidaya di Indonesia.

“Sistemnya kan sudah canggih, semoga saja tidak ada celah untuk yang titip-titip seperti itu. Kalau masih ada siswa titipan seperti itu, buat apa sistem online dibuat. Kasihan yang seharusnya bisa masuk jadi tidak masuk,” pungkasnya. (bbg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Back to top button