Opini

Ramadan dan Konsumerisme

Oleh:

Hj. Muthi’ Masfu’ah ‘Ma’ruf’ AMd

(Ketua Gagas Citra Media dan Rumah Kreatif Salsabila)

Tanpa disadari setiap memasuki Ramadhan, ummat Islam ‘selalu’ diposisikan sebagai ‘konsumen potensial’ untuk meraup keuntungan bisnis. Sensibilitas keagamaan bagi para pebisnis menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak tingkat konsumsi dan belanja masyarakat dibanding hari-hari biasa. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Realitasnya  ini tentu saja dapat dengan mudah ditemukan. Lihat di sekitar kita sekarang ini. Berbagai macam barang-barang konsumsi diproduksi dan ditawarkan spesial menyambut bulan suci Ramadhan. Mulai dari sandang, pangan, hingga kartu telepon seluler sekalipun. Termasuk hiburan seperti sinetron, musik, humor, dan ceramah pun sudah mulai tayang atas nama bulan suci Ramadhan. Kemudian muncullah istilah sinetron religi atau album religi para penyanyi maupun grup band yang selalu ditunggu para penggemarnya.

Tengok saja melalui iklan di media cetak maupun elektronik berbagai komoditas yang diproduksi dengan sensibilitas keagamaan dilempar ke pasar. Tentu saja selama bulan puasa produk yang dibuat sudah dibalut dengan “pakaian” bulan suci Ramadhan, Islam. Dan yang tidak kalah penting, sadar maupun tidak sadar, sesungguhnya di situlah terjadi proses penanaman semacam pembenaran atau “Islamisasi” atas perilaku konsumtif umat Islam selama bulan puasa.

Bulan Ramadhan Bulan Kepedulian

Sesungguhnya, Islam menempatkan ibadah puasa pada posisi yang istimewa. Puasa merupakan ibadah yang memadukan keikhlasan hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan keihklasan hubungan antara manusia dengan manusia (hablum minannas). Secara pribadi puasa merupakan media mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, karena sangat pribadi Allah SWT sendirilah yang akan membalasnya.

Kita sadari atau tidak, manusia pada dasarnya diberikan kecintaan terhadap harta benda sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri. Kecintaan ini memicu lahirnya sikap bakhil (pelit dan kikir) serta individualis, konsumeris, mementingan diri sendiri dan enggan berbagi. Salah satu hikmah dan rahasia berpuasa adalah memupuk solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, tepa selira, kepedulian sesama  dan kesetiakawanan sosial.

Demikianlah dari  sisi sosial puasa mengajarkan untuk lebih peduli kepada sesama. Memperbanyak amal sholeh dan bukan menumpuk nafsu konsumtif sendiri. Puasa hendak mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, Islam pun menegaskan kepedulian sosial ini dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan.

Untuk itulah puasa bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Takwa adalah derajat paling tinggi di sisi Allah SWT dan mustahil dicapai melalui pemenuhan nafsu pribadi yang bersifat material dan simbolik. Puasa ingin mengajak umat Islam untuk membebaskan diri dari pemenuhan aneka kebutuhan simbolik. Termasuk membebaskan diri dari belenggu konsumerisme. (*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button