Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Kolom Redaksi

Blokir Bukan Solusi  

Published

on

Dibaca normal 3 menit

Oleh:  Muhammad Zulfikar Akbar (Redaktur Bontang Post dan Manager Bontang TV)

Berita mengejutkan datang dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Menteri Rudiantara secara resmi menutup dan memblokir layanan pesan instan Telegram di Indonesia. Adanya konten radikalisme dan terorisme yang beredar di Telegram jadi alasan pemblokiran akhirnya dilakukan oleh kementerian.

Dirjen Aplikasi dan Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, menegaskan pemblokiran ini harus dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Lebih lanjut, jika Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka, maka pemerintah pun menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia.

Kabar ini jelas mengejutkan bagi seluruh pengguna ponsel pintar dan media sosial di Indonesia. Betapa tidak, Telegram merupakan aplikasi alternatif selain Whatsapp dan Line yang menawarkan kemudahan dalam mengirimkan pesan instan, baik kepada individu maupun secara berkelompok/grup. Tak hanya Telegram saja, dua aplikasi yang saya sebut, bersama dengan aplikasi-aplikasi serupa lainnya pun cara kerjanya hampir sama.

Langkah pemblokiran yang dilakukan oleh Kemenkominfo ini sebenarnya sangat disayangkan. Sebab, dengan berbagai keunggulan dan kelebihannya, banyak pengguna aplikasi pesan instan lainnya bermigrasi ke Telegram. Seperti keamanan dalam enkripsi pesan, channel dan super group hingga puluhan ribu anggota, hingga stiker seperti Line dan bot.

Alasan banyaknya konten radikal di Telegram sebenarnya belum bisa jadi alasan yang kuat. Sebab tak hanya di Telegram, bahkan di Line dan Whatsapp pun juga banyak yang menyebarkan konten-konten demikian. Bahkan, Menteri Rudiantara pun sempat memberikan statement meminta maaf apabila Facebook dan Google nantinya akan ditutup. Langkah ini (pemblokiran), menurut saya sangat tidak relevan di jaman digital saat ini.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments