Kaltim

Ketua DPRD Tanggapi Pelecehan Belimbur

“Jangan Dinodai Lagi”

SAMARINDA – Aksi pelecehan dalam tradisi Belimbur di Festival Erau disesalkan banyak pihak. Salah satunya Ketua DPRD Kaltim Syahrun. Pria yang akrab dipanggil Haji Alung ini memberikan peringatan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kesucian tradisi daerah Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut. Apalagi Belimbur memiliki makna penyucian diri.

“Belimbur itu bagian dari kegembiraan, tidak ada bayang-bayang untuk merugikan orang lain. Apalagi untuk mengotori. Maka syarat Belimbur itu harus bersih dan santun,” kata Alung kepada Metro Samarinda, Senin (7/8) kemarin.

Untuk itu, dia meminta warga agar selalu menaati ketentuan-ketentuan yang berlaku. Serta mematuhi imbauan-imbauan yang diberikan para pejabat, kepolisian, ataupun keamanan yang ada di sana. Oknum-oknum warga yang melanggar tentunya perlu diberikan peringatan tegas. Bahwa peraturan Belimbur harus dipatuhi.

“Itu hari kegembiraan, hari meluapkan keberhasilan. Kalau ada yang melakukan hal tidak baik. Berarti orang tersebut sudah menodai event yang sangat ditunggu masyarakat,” bebernya.

Menurut Alung, peringatan keras perlu diberikan kepada oknum yang menodai pelaksanaan acara adat. Tentunya peringatan ini dengan harapan kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian jari. “Jangan dinodai lagi,” sambung Alung.

Politisi Partai Golkar ini pun menyesalkan postingan oknum warga di jejaring sosial facebook. Yaitu yang menyebut Belimbur dengan istilah yang tidak tepat. Sehingga dianggap melecehkan tradisi Belimbur. Menurutnya hal seperti itu tidak perlu diekspos di media sosial. Bahkan sampai menjadi perdebatan dan saling pro dan kontra.

“Cukup mengimbau bagaimana agar jangan kembali terulang. Saya rasa media sosial mesti digunakan dengan baik. Kalau sifatnya koreksi boleh saja. Tapi jangan sampai menuduh, itu tidak baik,” tegasnya.

Untuk diketahui, Belimbur merupakan tradisi saling menyiram air bersih yang sudah berlangsung ribuan tahun. Tradisi ini punya makna penyucian diri masing-masing individu. Sayangnya tradisi ini tercoreng oleh aksi oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan pelecehan pada warga yang melintas di jalan saat Belimbur berlangsung.

Ditambah lagi muncul oknum warga yang mengunggah postingan di jejaring sosial facebook yang menyebut Belimbur sebagai hari menyakiti perempuan secara tradisional. Unggahan inilah yang lantas menyulut emosi masyarakat Kaltim khususnya warga Kutai. Akun bernama “Pelita Senja” yang mengunggah pun mendapat banyak tanggapan negatif dari warganet di media sosial. (luk)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button