Bontang

DPK Wacanakan Konsep e-Bontang 

Penurunan Pengunjung Perpustakaan 40 Persen

BONTANG – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Dobi Rizami menyanggah jika terjadinya penurunan minat baca. Menurutnya fenomena yang terjadi ialah menurunnya para pengunjung yang ada di perpustakaan daerah.

“Sebetulnya begini, penurunan minat baca itu secara fisik, maksud saya kunjungan orang membaca buku cetak di perpustakaan,” ungkapnya.

Perkembangan teknologi menjadi sebuah faktor penyebab merosotnya angka pengunjung di perpustakaan yang terletak di Jalan HM Ardans, Kelurahan Satimpo, sebesar 40 persen dari tahun sebelumnya. Masyarakat justru lebih sering menggunakan buku-buku digital sebagai bahan bacaan.

“Tetapi eforia teknologi informasi ini orang membaca beralih dari yang namanya perpustakaan digital,” tambahnya.

Ia mencontohkan layanan e-Kaltim garapan Pemprov Kaltim terdapat 11 ribu lebih buku digital. Belum lagi instansi maupun perorangan yang menyumbangkan buku online di fasilitas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Kaltim.

Konsep ini yang akan diadopsi oleh DPK Bontang untuk memberikan kemudahan masyarakat dalam hal membaca literasi. Tentunya hal ini sesuai dengan visi dan misi Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni  dengan konsep smart city, jikalau program tersebut terwujud maka orang tidak perlu lagi datang ke perpustakaan daerah tetapi bisa membaca melalui smartphone yang dimiliki.

“Ke depan dengan adanya teknik teknologi, kami ya harus mempersiapkan yang namanya perpustakaan digital, perpustakaan digital ini harapanya memberikan akses layanan masyarakat yang mudah, artinya orang tidak perlu berkunjung ke perpustakaan, orang cukup membuka yang namanya e-Bontang saja,” papar Dobi Rizami.

Namun, DPK juga tetap akan melakukan langkah sosialisasi demi menaikkan kembali pengunjung perpustakaan serta pojok baca yang tersedia di kantor kelurahan maupun tempat fasilitas layanan umum seperti kantor Samsat. Dikarenakan membaca merupakan ukuran peningkatan kualitas manusia oleh karena itu kegiatan kemampuan berbahasa pasif ini harus dimulai dari lingkup keluarga, pelajar, dan masyarakat. (*/ak)

Tags

Related Articles

Back to top button