Bontang

Usulkan Pemecahan Rekor MURI  1.200 Pendaftar Pemeriksaan Payudara Klinis

BONTANG –Yayasan Kanker Indonesia cabang Bontang mengajukan diri untuk memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) hal jumlah pemeriksaan payudara klinis (Sadanis). Sekretaris Yayasan Asiah mengatakan, rekor ini belum ada yang memegang sebelumnya.

“Sadanis di-launching 2017, dan belum ada yang mendapatkan rekor itu sejauh ini,” ungkapnya saat menghadiri kegiatan Sini Periksa Cantik, di Aula Kantor Kecamatan Bontang Selatan (28/9).

Dikatakannya, sebanyak 500 orang melakukan pemeriksaan Sadanis yang terbagi di dua kecamatan yakni Bontang Barat dan Selatan. Jumlah tersebut ditambahkan dari pemeriksaan sebelumnya yang mencapai angka sekitar 700 pendaftar.

“Untuk pemecahan rekor ini kami capai 1.200 orang yang melakukan pemeriksaan,” tambahnya.

Pemeriksaan tersebut melibatkan seluruh fasilitas kesehatan (Faskes) yang ada di Kota Taman mulai dari Puskesmas hingga bidan praktik. Rencananya pada hari itu juga usulan pemecahan rekor MURI sehubungan dengan Sadanis dikirimkan ke Kantor MURI setelah melalui rekomendasi dari Yayasan Kanker Indonesia.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Diskes-KB) Bahauddin memaparkan kanker merupakan penyakit pembunuh nomor satu. Oleh karena itu, melalui Sadanis dapat mencegah penyakit kanker payudara sedini mungkin.

“Penyebab kanker ialah HPV (Human Papiloma Virus) 16 dan 18. 70 persen penyakit kanker disebabkan oleh dua virus ini,” ujarnya.

Pentingnya melakukan pencegahan dikarenakan apabila virus tersebut sudah menyebar ke seluruh tubuh maka akan sulit disembuhkan. Ia menyarankan kepada pasangan muda untuk melakukan pemeriksaan payudara minimal satu tahun sekali.

“Kalau sudah menyebar di tubuh kita dan tiba-tiba datang dengan stadium lanjut, itu angka harapannya tinggal 20 persen, menurut penelitian tinggal 5 tahun,” paparnya.

Terpisah, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan kepada pendaftar Sadanis, kanker bukanlah penyakit yang perlu ditakuti, tetapi diharuskan untuk pencegahan sedini mungkin. Neni mengajak masyarakat untuk berkomitmen mengawali langkah pencegahan dari lingkup keluarga, salah satunya melakukan pengawasan kepada anak-anak terhadap penggunaan alat telekomunikasi sehubungan dengan salah satu penyebab kanker yakni terjadinya seks bebas.

“Seks bebas bisa masuk ke anak-anak kita melalui gadget,” kata Neni. (*/ak)

Tags

Related Articles

Back to top button