Feature

Ajak Makan Ikan Papuyu, Dinasihati Pentingnya Sebuah Reward

Salah satu rumah di Kompleks Sakura Regency Surabaya mendadak ramai dikunjungi belasan Redaktur Kaltim Post Group (KPG), Senin (20/11). Tujuan mereka satu,  ingin bersilaturahmi dengan wartawan senior sekaligus tokoh pers Indonesia: Dahlan Iskan.

Rachman Wahid, BONTANG

Keluar dari mobil listrik abu-abu merk Tesla, Dahlan yang mengenakan baju lengan pendek biru menyambut kami di halaman rumah. Dahlan terlihat sehat di usianya yang menginjak 66 tahun. “Sebentar ya, saya masuk dulu, sambil menunggu yang lain datang,” kata Dahlan setelah bersalaman.  Kami yang datang di kediaman Dahlan saat itu datang terpisah, lantaran berbeda kendaraan.

Setelah semua redaktur lengkap, kami pun diajak Dahlan masuk rumah. Rumahnya sederhana, meski saya yakin Dahlan, punya rumah yang lain. “Kita makan dulu, lapar kan?,” ajak Dahlan saat menyambut dan menggiring kami ke ruang makan.

Jejeran mangkuk berisi lauk-pauk terhampar di atas meja, di ruang makan. Kata Dahlan, salah satu lauk ada yang sangat istimewa: ikan papuyu bumbu merah. “Ikan ini dikirimkan langsung dari Kalimantan. Suka sekali istri saya ikan ini,” kata Dahlan sambil membagikan satu per satu piring kepada kami.

Bagi masyarakat Kalimantan, ikan papuyu memang tidak asing, salah satu ikan primadona sebagai ikan konsumsi. Rasanya yang gurih dan lezat benar-benar membuat ikan ini selalu dicari dan membuat orang ketagihan untuk menyantapnya.

“Silahkan dicoba. Tapi saya harus ingatkan, hati-hati makan ikan ini, banyak tulangnya. Anda yang dari Kalimantan pasti tahu itu,” ujarnya memperingati kami yang tampak bernafsu menetapkan target lauk yang akan disantap.

Acara makan selesai, kami pindah ke musala, sekitar 8 meter dari ruang makan.

Melewati kolam ikan, kami lesehan di musala yang beralas karpet merah. Musala ini terbuka dengan tanaman bunga di sekelilingnya. Setelah menyalakan kipas angin, Dahlan dan kami duduk lesehan.

Siang itu, saya dan 10 redaktur lainnya memang diagendakan bertemu Dahlan. Dia adalah guru sekaligus idola. Tak salah jika kami butuh wejangan dari beliau. Pertemuan ini merupakan satu rangkaian orientasi dan pemagangan Redaktur KPG  selama 4 hari di Jawa Pos, Surabaya.

Sebagai seorang penyunting, seorang redaktur bertanggung jawab penuh terhadap berita yang disuguhkan kepada pembaca. Selain itu pula, redaktur turut memimpin para wartawan di perusahaan media. Karena itu, dirasa perlu arahan dan nasihat dari senior. “Saya tidak mau ditanya-tanya. Tadinya saya ajak makan biar kenyang, supaya tidak ditanya-tanya,” canda Dahlan yang langsung disambut tawa para redaktur.

Duduk di antara para redaktur, mantan Menteri BUMN ini menegaskan pentingnya sebuah reward bagi pimpinan untuk karyawan termasuk wartawan. Dirinya menyebut karyawan yang berpengaruh dan berprestasi untuk perusahaan sebagai andalan. “Mereka yang menjadi andalan sebenarnya tulang punggung di perusahaan.  Nah, sebagai pemimpin, penghargaan apa yang bisa Anda berikan untuk para andalan itu?,” tanya dia.

Lanjut Dahlan, penghargaan bisa diberikan dengan cara bersikap. Salah satu sikap yang bisa dilakukan ialah memperlakukan bawahan layaknya kawan. “Memperlakukan bawahan layaknya kawan itu baik. Tapi jangan karena dianggap teman lalu Anda tak bisa marah,” ujarnya.

Lainnya, bisa memberikan penghargaan berupa kenaikan jabatan dan penghasilan. “Kalau gak ada duit, wartawan atau karyawan yang  jelek-jelek dikeluarkan saja. Gajinya berikan kepada karyawan andalan Anda. Sedikit karyawan, tapi sejahtera,” kata dia.

Dahlan juga memperingatkan, agar jangan menyamakan nasib karyawan andalan dan karyawan tidak andalan. “Itu namanya Anda berbuat zalim. Kan ada ayatnya. Orang zalim dilaknat oleh tuhan,” ujarnya.

Selain itu, bentuk penghargaan juga bisa dilakukan dalam bentuk pujian. Pujian dapat diberikan kepada karyawan sebagai motivasi dan bentuk perhatian. “Sebagai manusia harus terus diingatkan. Jangan sampai buta jabatan. Karena sibuk bekerja, karyawan andalan jadi tidak diperhatikan. Pujilah karyawan jika berbuat baik,” tegasnya.

Di ujung pertemuan, Dahlan berpesan kepada para redaktur agar segera identifikasi para wartwan andalan di masing-masing perusahaan asal.  “Cari siapa andalan itu, cari siapa yang menyukseskan perusahaan. Saya yakin Anda sudah melakukan itu, saya hanya mengingatkan. Kalau sudah ketemu, hargai mereka,” tukasnya.

Anjangsana dengan Dahlan pun berujung dengan foto bersama. Tak mau ketinggalan, saya pun meminta foto hanya berdua. Kesan saya di pertemuan siang itu hanya satu: Dahlan Iskan pemimpin yang baik. (***)

 

Tags

Related Articles

Back to top button