Bontang

Adit: Erwin Sempat Teriak Minta Tolong

Di rumah kayu berukuran sedang, Rifky Aditya Pratama alias Adit hanya duduk termenung diatas kasur tipis dengan dikelilingi tumpukan baju hasil lipatan ibunya. Di luar rumah, warga sekitar sudah memenuhi pekarangan rumahnya serta beberapa rumah disampingnya menunggu pemakaman teman bermainnya yakni Erwin.

Tatapan Adit seperti kosong, dengan memanjangkan kakinya Adit tampak ketakutan. Saat ditanya, dia awalnya enggan bercerita. Namun lambat laun, mulutnya mulai mau membuka pembicaraan. Wajah tanpa ekspresi, itulah yang telihat darinya.

“Pertamanya saya sama adiknya Ferdiansyah (korban lainnya yang masih di rumah sakit, Red) berenang di laut,” buka dia saat dikunjungi di kediamannya, Senin (1/1) kemarin.

Kata dia, Erwin menyuruhnya berenang sebentar, kemudian Erwin ke belakang tempat dia berenang. Namun Adit pun tak tahu apa yang dikerjakan oleh Erwin. Hanya saja, Erwin berkata padanya kalau dia mau memancing. “Aku sama adiknya Ferdiansyah masih berenang tiba-tiba ada teriak minta tolong,” kata Adit.

Sambil berlari, Adit pun menghampiri Erwin yang sudah dalam posisi kesetrum sambil duduk, tetapi tangannya memegang kawat berduri dan teriak minta tolong. “Tolong-tolong,” ujar Adit menirukan teriakan Erwin kala itu.

Dengan niat ingin membantu temannya, Ferdyansyah pun segera membantu Erwin dengan memegang kawat berduri itu. Nahas, aliran listrik masih mengalir disitu hingga membuat Ferdyansyah pun tersengat listrik. “Bajuku sempat ditarik Ferdyansyah terus dia pingsan. Aku sama adiknya Ferdiansyah langsung lari ke rumah orang tuanya Erwin untuk memberi tahu. Barulah setelah itu banyak orang yang mau menolong,” bebernya.

Kata Adit, dia beserta ketiga temannya memang sering bermain ke sana. Tetapi setelah kejadian itu, Adit mengaku takut dan tak mau lagi bermain ke Pelabuhan Tanjung Laut.

Tak jauh dari rumah Adit, Ayah Ferdyansyah, Firdaus mengatakan beruntung saat di lokasi ada ibu-ibu yang memukul anaknya menggunakan handuk. Sehingga Ferdyansyah terlepas dari aliran listrik dan terpental jauh. “Ada satu perempuan disana yang mukul anak saya pakai handuk, kalau tidak? Tidak tahu juga gimana nasib anak saya,” ungkap Firdaus.

Saat ini, kondisi Iyan—sapaan Ferdyansyah—sudah mulai membaik. Minggu malam lalu, Iyan sudah sadar dan sudah bisa diajak bicara. “Wajah sebelah kanan anak saya pipinya agak hitam gosong, kata Iyan dia mau nolong temannya tapi tertarik seperti ada magnetnya,” ujarnya menceritakan omongan  Iyan.

Di rumah korban, yakni 2 rumah dari rumah Adit, banyak sanak saudara korban yang menangis dengan kepergian Erwin. Saat itu, pihak keluarga sedang menunggu ayah Erwin yang masih dalam perjalanan dari Sulawesi. Begitu tiba di rumah duka, ayah korban Awis Sanjaya terlihat tak kuasa menahan duka dan langsung mencium jenazah anaknya hingga berulang kali pingsan. Usai disalatkan, Erwin pun baru dikebumikan pada Senin (1/1) kemarin sekira pukul 14.30 Wita.

Menurut tetangga korban, kondisi Erwin cukup mengenaskan. Dada sebelah kirinya bolong dan terkelupas, termasuk kaki dan tangannya. Warga pun agak sulit melepaskan kawat berduri yang nempel di tubuh korban.

Salah satu tetangganya, Sudarwati mengatakan sebelum kejadian, korban sempat meminta Zulkifli mengantarnya naik motor keliling Bontang. “Sebelum mancing, ia minta diajak Zulkifli naik motor keliling Bontang. Katanya, ayo bonceng aku keliling Bontang,” kata Sudarwati, yang tak mengira jika itu adalah pertanda korban akan pergi.

Bahkan setelah keliling naik motor, korban yang terkenal tak bisa diam ini, meminta makan oleh ibunya dan terlihat lahap sekali makan saat itu. “Sebelum mancing itu, korban makan nasi sama mangga. Dia (korban, Red) nggak kerasa kecut atau apa gitu, pokoknya lahap sekali makannya pakai mangga. Nah pas sudah habis, korban langsung ijin ke mamanya mau mancing sama teman-teman. Waktu itu mamanya melarang, tapi korban tetap berlari sambil teriak, “Cuma sekali ini aja kok ma mancingnya,” kata Sudarwati menirukan ucapan korban yang ia dengar juga.(mga)

Tags

Related Articles

Back to top button