Feature

Belanda Menyerang Balik, Para Pejuang Mulai Berguguran

Mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang merebut. Itulah yang dialami para pejuang yang tergabung dalam pasukan Barisan Pembela Rakyat Indonesia (BPRI). Keberhasilan merebut Sangasanga nyatanya dibalas dengan serangan balik dari Pasukan Belanda di hari kedua.

Ahad pagi 27 Januari 1947, pasukan BPRI berhasil merebut Sangasanga dari cengkeraman pemerintahan Belanda. Siang harinya sekira pukul 12.00 Wita, pimpinan umum BPRI didampingi Budiono, Susilo, dan Sukiman mengadakan inspeksi ke setiap sector. Di antaranya Distrik IV, Tangsi MID/PID yang baru saja direbut oleh para pejuang.

Pimpinan BPRI beserta stafnya menginspeksi dari sektor-ke sektor sambil memberikan petunjuk dan pengarahan. “Dari inspeksi tersebut diketahui bahwa Perwira Belanda bernama Kisberry melarikan diri sewaktu terjadi tembak-menembak dengan para pejuang,” kata Hamdani, budayawan Kaltim yang menyusun kembali kisah peristiwa Merah Putih Sangasanga.

Pukul 13.30 Wita, inspeksi dilakukan ke tempat para tahanan Belanda (sipil) pegawai NV de BPM. Sesuai peraturan internasional, para tahanan ini diperlakukan dengan baik. Satu jam kemudian, para pejuang bersenjata lengkap telah dipersiapkan untuk memperkuat front terdepan. Karena ada informasi bahwa Belanda akan mengadakan serangan balasan dari Samarinda.

“Di satu sisi, anggota BPRI yang berada di Samarinda dan akan ke Sangasanga terhambat gerakannya. Sehingga untuk menghambat serangan balik pasukan Belanda atau memukul mundur pasukan musuh, BPRI memutuskan dibentuknya beberapa pos,” urai Hamdani.

Pos I Muara Ujung dipimpin oleh Lomban, eks KNIL (pasukan Belanda) yang bergabung dalam BPRI. Lomban didukung beberapa eks Heiho (polisi bentukan Jepang) yang sudah berpengalaman dalam bertempur. Pos II Muara Jembatan dipimpin Toekiman Gondo, Kusbi, dan beberapa eks Heiho yang kemampuan tempurnya tidak diragukan lagi. Sementara Pos III Gunung Merah dipimpin Sumiran.

“Sumiran dibantu para pejuang dan eks Heiho dengan persenjataan Brengun MK 1 Mortir 2 dan beberapa pucuk senjata laras panjang,” jelas Hamdani yang membukukan kisah heroik Sangasanga ini ke dalam buku ‘Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kalimantan Timur’ bersama penulis lainnya, Johansyah Balham.

Di luar dugaan dan tanpa kecurigaan komandan Pos I, Lomban dan dua orang temannya eks KNIL melarikan diri dengan membawa Bren MK I dan 2 pucuk senjata laras panjang LE. Namun berkat usaha gigih dari para pejuang mereka dapat ditangkap dan diserahkan ke markas pusat BPRI di Sangasanga.

Hari itu juga di daerah yang sama, tertangkap seorang sersan KNIL yang berusaha melarikan diri ke Samarinda bernama Sersan Van Heck. “Melihat beberapa kejadian tersebut, Pos Pertahanan Muara Sangasanga lebih memperketat pengawasan dan kewaspadaannya,” kisah Hamdani.

Pukul 16.00 Wita, Pos III Gunung Merah melihat sebuah kapal menuju Sangasanga. Setelah diperiksa, kapal itu ternyata membawa penumpang empat orang KNIL dan istri Akub (eks KNIL) yang bergabung dengan BPRI. Senjata mereka dilucuti kemudian diserahkan ke markas besar BPRI di Sangasanga. Beberapa peristiwa penting yang terjadi di Pos I dan II membuat mereka menjadi lebih waspada.

Senin 28 Januari 1947, pada hari kedua berkuasa di Sangasanga dan sekitarnya, para pejuang mulai merasakan akan adanya serangan Belanda untuk mengambil kembali kota yang telah direbut. Pukul 10.00 Wita pagi, tampak sebuah kapal dari jurusan Samarinda memasuki perairan Muara Sangasanga dengan mengibarkan bendera Merah Putih.

“Sebelumnya, pada hari itu juga ada telepon dari kantor Polisi Samarinda. Telepon itu mengatakan akan ada bantuan pasukan. Namun kurang jelas dari siapa dan untuk siapa sambungan telepon tersebut. Ini membuat pihak pejuang menjadi was-was dan curiga,” ungkap Hamdani.

Setelah diperiksa, kapal tersebut ternyata kapal Zara milik jawatan Pelabuhan Samarinda. Penumpangnya Algameene Polisi Belanda yang dipimpin seorang peranakan Belanda, Ajunct Inspektur Polisi dan Hasan Abidin.

Begitu kapal merapat di Jembatan Muara, muncul ketegangan antara pejuang dengan pihak polisi Belanda tersebut. Suharto, salah seorang pejuang yang sudah tidak dapat mengendalikan emosinya langsung menyerang. Terjadilah tembak-menembak yang cukup seru. Pe’ek alias Sjafi’e, salah seorang pejuang BPRI gugur sebagai pahlawan dalam adu senjata tersebut.

“Pertempuran berjalan sekira 30 menit. Pasukan Polisi Belanda mundur dengan menaiki kapal tongkang yang sedang sandar di Jembatan Sangasanga. Setelah mereka mundur, pertempuran berhenti dengan sendirinya,” beber Hamdani.

Pukul 11.00 Wita pasukan yang berada di Pos I ditarik mundur ke Pos III yang jaraknya sekira 150  dari Gunung Merah yang cukup terlindungi. Dalam kesibukan penyatuan Pos I ke Pos III yang tengah dilakukan para pejuang itu, para Polisi Belanda mengambil kesempatan bergabung dengan KNIL yang tadinya ikut berjuang dengan para anggota BPRI, untuk kembali menyerang pasukan BPRI.

Pukul 13.00 Wita, Pasukan Belanda dan anggota KNIL yang melarikan diri mengkonsolidasikan semua pasukannya untuk melakukan serangan balik. Pertempuran sengit tidak dapat terhindarkan lagi. Akibatnya, banyak korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak.

“Kepada markas besar BPRI telah diberitahukan apa yang terjadi di pos terdepan. Yang kesimpulannya meminta agar dari markas besar mengirimkan bantuan anggota yang lebih segar dan terlatih. Begitu juga amunisi dan senjata yang lebih baik,” terang Hamdani.

Sekira pukul 13.30 Wita, bantuan tiba dari markas besar. Bantuan tenaga yang masih segar terdiri dari eks Heiho dan para pejuang. Mereka sebelumnya sudah mendapatkan latihan secukupnya beserta senjata dan amunisi yang diperlukan.

Pukul 16.00 Wita, dua buah kapal memasuki perairan Muara Sangasanga. Sembari mengadakan serangan dari jauh dengan menggunakan mortir dan senapan mesin 12,7 ke pertahanan BPRI. Tembakan dari kedua kapal tersebut adalah untuk melindungi pendaratan pasukan Belanda.

“Setelah mereka mendarat terjadilah pertempuran sengit yang tidak bisa dihindarkan lagi dan korban berjatuhan lagi,” kisah Hamdani.

Selasa 29 Januari 1947, pukul 08.00 Wita, rencananya markas besar BPRI akan mengadakan upacara bendera. Namun upacara ini dibatalkan dengan berbagai alasan. Di antaranya khawatir dilihat dari udara oleh pesawat terbang pengintai Belanda. Keputusan dan kesepakatan dari pimpinan markas besar BPRI menyatakan upacara dibatalkan.

Beberapa waktu kemudian, pimpinan markas besar RF Sukarto menginstruksikan salah seorang staf personalia untuk menginventariskan seluruh logistik yang ada pada BPRI. Peluru persediaan untuk satu kompi sebanyak dua ton terdiri dari bermacam-macam jenis peluru, mortir 50 peti, senjata ringan laras panjang dan berat termasuk mortir 400 pucuk. Sandang dan pangan diklaim dalam kondisi yang cukup.

Setelah mengundurkan diri dari pertahanan Muara, pasukan pejuang kembali membuat pertahanan di pos Tepian, dekat Sentral Listrik. Di Pos Tepian ini pasukan pejuang dipimpin Margono, dengan dibantu Supardi yang lolos dari penangkapan Belanda di Anggana. Pasukan ini lantas diperkuat pasukan Toekiman Gondo yang sempat mengundurkan diri.

“Sebelumnya pasukan Toekiman Gondo dan para pejuang mundur sementara untuk makan. Karena selama satu hari satu malam tidak menyentuh makanan apapun. Kemudian bergabung dengan pasukan Margono yang bertahan di Pos Tepian,” papar Hamdani.

Sewaktu seluruh pasukan di Muara mengundurkan diri, pasukan pejuang ditembaki terus-menerus oleh pasukan Belanda. Mereka ditembaki dengan berbagai jenis senjata berat dan ringan, dari kapal perang Anzen dan KM Semeru. Hanya dengan sedikit perlawanan, Belanda menurunkan pasukannya dari Balikpapan, Kompi 115 yang dipimpin Kapten Zoosmaker. (luk/bersambung)

Tags

Related Articles

Back to top button