Feature

Kalah Senjata dan Pengalaman, Kota Jatuh ke Tangan Belanda

Pengkhianatan mewarnai perjuangan Barisan Pembela Rakyat Indonesia (BPRI) dalam mempertahankan Kota Sangasanga. Kalah pengalaman dan persenjataan, pada akhirnya para pejuang terpaksa merelakan jatuhnya kota tersebut ke tangah Belanda.

Banyak korban dari pihak BPRI jatuh akibat laporan orang yang berpihak kepada Belanda. Sementara Pasukan KL Belanda di bawah pimpinan Kapten Bijker menyusuri daerah pantai dan sungai mengawal kapal-kapal mereka yang turut beroperasi.

Pertempuran berjalan terus dan semakin seru karena pasukan rakyat BPRI terkepung dari segala penjuru. Mereka sangat terdesak oleh serangan gabungan pasukan Belanda yang berkekuatan luar biasa.

“Tidak ada jalan lain lagi karena pasukan rakyat sudah cerai-berai. Maka akhirnya masing-masing berusaha menyelamatkan diri dengan mundur teratur masing-masing mencari tempat yang lebih aman,” ujar Hamdani, penulis buku ‘Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kaltim’ yang memuat kisah bersejarah ini.

Menjelang Magrib, hari yang mulai gelap digunakan pasukan rakyat untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Pasukan di sektor Sangasanga Seberang/Bantuas dan Handil dipimpin oleh Sani, Bola, dan Sabar tidak dapat berbuat apa-apa. Karena gerak-gerik mereka selalu diawasi oleh pasukan Belanda dari jarak tembak yang sangat strategis, yang setiap saat dapat menghancurkan pejuang.

Selanjutnya sekira pukul 19.00 Wita, seluruh pertahanan Tanjung Periok lumpuh dan dapat dikuasai oleh Pasukan Belanda. “Semua pejuang yang berhasil selamat mengundurkan diri berkumpul di markas besar untuk siap menerima perintah atau instruksi pimpinan,” sambung Hamdani.

Malam itu tanggal 29 Januari 1947 sekira pukul 22.00 Wita, seluruh staf pimpinan markas besar mengadakan rapat. Mereka mengevaluasi keadaan genting dan sangat mendesak untuk mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu, termasuk memobiliisasi seluruh kekuatan yang ada di masyarakat.

Rincian keputusan rapat tersebut antara lain dianjurkan membawa senjata apa saja yang mereka miliki. Mulai dari mandau, tombak, parang, hingga sumpit. Para pejuang diharuskan Memakai tanda pengenal dengan mengikatkan bendera merah putih di kepala masing-masing.

“Diberikan juga dua buah granat tangan, untuk dapat dipergunakan bila berhadapan dengan musuh. Setelah mereka dilatih singkat dan memahami sungguh-sungguh bagaimana menggunakannya dan mengadakan perang gerilya,” ungkap Hamdani.

Beberapa keputusan penting lainnya yang diambil dalam rapat staf BPRI antara lain mengundurkan diri ke hutan-hutan dan tempat-tempat yang ditentukan. Di antaranya Distrik IV, jurusan Dondang dan Sungai Tiram, pedalaman Bantuas, Rapak Pahlawan, Air Putih, Sungai Nangka dan pedalaman lainnya di daerah Sangasanga Dalam.

Seluruh dokumen rahasia yang sudah tidak diperlukan diinstruksikan untuk dimusnahkan serta mengusahakan keselamatan para tawanan Belanda sipil BPM. “Jangan sampai para tahanan mendapat cidera baik oleh tembakan pejuang dan lain-lainnya,” tambah Hamdani yang menyusun kembali kisah Merah Putih Sangasanga bersama penulis lainnya, Johansyah Balham.

Semua keputusan rapat tersebut disampaikan kepada semua pimpinan sektor dan pos-pos. Agar para pejuang jangan sampai salah melangkah dalam bertindak. Rapat staf seluruh pimpinan markas BPRI berakhir Rabu, 30 Januari 1947 pukul 04.00 Wita.

Rabu pagi tatkala fajar menyingsing, hari yang menentukan itu pun tiba. Semua pemuda dan rakyat pejuang berkumpul di markas besar BPRI untuk menerima amanat dan perintah langsung dari pimpinan BPRI. Dengan membawa senjata masing-masing untuk mempertahankan Kota Sangasanga dari serangan Belanda.

“Dalam waktu yang relatif singkat semua pejuang, baik tua maupun muda berkumpul di markas besar memenuhi panggilan tersebut dan siap menerima perintah apapun dari pimpinan,” urai Hamdani.

Sementara itu pihak Belanda telah melakukan gerakan-gerakan dan menempatkan pasukan intinya. Di Distrik V sudah ada oknum orang Timor yang terkenal anti perjuangan rakyat sekaligus antek Belanda. Pasukan Belanda lantas merambat ke jurusan Waterleiding, Saumill, dan sekitarnya ke gunung-gunung di belakang Sepuluhsepuluh dan melebar ke arah Kolam renang.

“Yang lainnya lagi menyusuri sungai Sangasanga untuk menuju titik sasaran pertahanan markas besar BPRI,” tutur Hamdani.

Tepat pukul 09.00 Wita, pertempuran yang menentukan itu pun tidak dapat dihindarkan lagi. Pertempuran sengit terjadi di setiap pos pertahanan rakyat yang memang sudah disiapkan untuk mengadang majunya Belanda.

Kekuatan yang tidak seimbang tampak terlihat antara para pejuang BPRI dan Pasukan Belanda. Para pejuang kalah jauh dalam persenjataan dan personel yang sangat berpengalaman dalam medan pertempuran.

“Para pejuang hanya memiliki sisa persenjataan yang amat minim, antara lain Mortir 5,” jelas Hamdani.

Dalam pertempuran ini, pasukan pejuang berada dalam kondisi sangat terdesak. Karena kehabisan peluru dak kerusakan atau sering macetnya beberapa senjata bren. Dalam situasi yang sangat kritis itu, pasukan pejuang mengundurkan diri setapak demi setapak mundur menuju ke pos berikutnya yang telah ditentukan.

Pasukan pejuang yang bertahan di Waterleiding di bawah pimpinan Sumiran bergabung dengan pasukan Toekiman Gondo dan Ahmadun. Mereka  bertahan di Gunung Distrik V jurusan Jembatan 6 dan 7.

Pasukan di Jembatan 6 dan 7 pimpinan Badawi, Taswid, Kasmin, dan Margono dan lainnya sementara bertahan di tempatnya. Lantas pasukan gabungan sektor I dan II dipimpin oleh Budiono dan Fathamsjah menjadi satu komando mempertahankan Jembatan 8 dan 9 kampung Sangasanga Dalam.

Pasukan pejuang dari Sepsep dan Simpang Empat dan beberapa puluh suku Buton pimpinan Hasyim AB (eks Joto Heiho) berusaha bertahan di Simpang Empat. Namun akhirnya terpaksa pasukannya mundur. “Susilo dan kawan-kawannya setelah mengalami pertempuran sengit bergabung dengan pasukan Sektor III pimpinan Bola, Sabar, dan M Sani,” terang Hamdani.

Semua pejuang akhirnya mundur hingga ke pertahanan utama Kota Sangasanga. Pada hari itu pukul 16.00 Wita sampai pukul 17.00 Wita pertempuran hampir berakhir di seluruh sektor. Praktis keadaan sudah dikuasai pasukan Belanda. Kota Sangasanga sunyi sepi dan ketegangan menyelimuti seluruh penduduk kota dan sekitarnya.

“Para pejuang meninggalkan posnya masing-masing karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Mereka menuju Handil, Kuala Jawa, dan hutan-hutan Bantuas,” kisah Hamdani.

Kamis 31 Januari 1947, seluruh Kota Sangasanga kembali dikuasai Belanda dan para anteknya. Namun begitu peristiwa heroik ini memberikan dampak yang sangat besar bagi perjuangan pergerakan rakyat Kaltim dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Termasuk memberikan inspirasi dan motivasi atas perjuangan Gerakan Rakyat Kutai (Kutai) yang terjadi kemudian. (luk/selesai)

Tags

Related Articles

Back to top button