Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Bontang

Anak Orang Utan itu Bertahan 14 Jam

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Merintih, kesakitan, seperti itulah yang dirasakan anak orang utan berjenis kelamin jantan saat ditemukan pertama kali di wilayah RT 07 Desa Teluk Pandan Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur pada Sabtu (3/1) lalu. Ajal pun menjemputnya setelah orang utan yang diberi nama Kaluhara 2 bertahan hidup selama 14 jam usai dievakuasi.

Mega Asri, Bontang

Rekor terbaru yang ditemui pusat perlindungan orang utan Centre for Orangutan Protection (COP) terdapat pada orang utan yang diberi nama Kaluhara 2. Pasalnya, sebanyak 130 butir peluru senapan angin yang bersarang di tubuh primata yang dilindungi itu menyebar dari kepala hingga kaki.

Mirisnya, jumlah peluru lebih banyak terdapat di kepala orang utan yang baru berumur sekira 5-7 tahun yakni sebanyak 74 peluru. Disusul bagian dada sebanyak 17 peluru, tangan kiri 14 peluru, kaki kanan 10 peluru, tangan kanan 9 peluru, serta kaki kiri 6 peluru. Jumlah tersebut diketahui dari hasil rontgen orang utan sebelum akhirnya diautopsi di Kamar Jenazah RS PKT Bontang.

Empat jam berjalan, autopsi pun dihentikan, mengingat banyaknya peluru yang bersarang di tubuh orang utan hingga menetap di tulang belulangnya. Hanya 48 peluru yang berhasil dikeluarkan oleh dokter hewan yang melakukan autopsi tersebut. “Banyak yang tersangkut di tulang, dan cukup sulit mengeluarkannya juga membutuhkan waktu yang lama,” jelas Manager Perlindungan Habitat COP, Ramadhani saat ditemui di RS PKT, Rabu (7/1) kemarin.

Sakit dan penyiksaan yang diderita oleh orang utan Kalimantan atau Pongo Pygmaeus itu tidak hanya karena banyaknya beluru yang bersarang. Namun, hasil autopsi juga menunjukkan kenyataan pahit yakni hilangnya penglihatan akibat peluru di sekitar mata. Lubang sebesar 5 mm di pipi kiri pun juga sangat menyakitkan bagi kera besar dengan tangan panjang itu, gigi taring bagian bawahnya pun ada yang patah.

Sebelumnya1 dari 4 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca