Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]

Connect with us
Bermita Bersama Kami

Bontang

Yang Tersisa dari Gelaran HPN 2018, Padang (1), Momen Angkat Pariwisata Sumatera Barat

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Hari Pers Nasional (HPN) 2018 yang berpusat di Kota Padang, Sumatera Barat benar-benar dimanfaatkan pemerintah setempat, sebagai pijakan untuk meningkatkan kepariwisatawan di Provinsi Sumatera Barat.

Yusva Alam, Bontang

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bontang tidak ketinggalan dalam mengikuti salahsatu event besar bagi insan pers tersebut.  Pada rangkaian HPN yang terselenggara selama 3 hari, sejak 7-9 Februari ini, PWI Bontang mengutus dua orang anggotanya, Yusva Alam dan Rachman Wahid. Keberangkatan kedua anggota PWI inipun berkat dukungan dua perusahaan besar di Bontang, PT Pupuk Kalimantan Timur dan Badak LNG.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tidak ingin kehilangan momentum langka dengan kedatangan ribuan insan pers tersebut. Rangkaian kegiatan HPN yang sejatinya sudah dilaksanakan sejak akhir 2017 lalu, banyak kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dunia pariwisata di Ranah Minang.

Di antara kegiatan yang diadakan adalah Minangkabau Run. Event olahraga lari bertema “Lari budaya, budayakan lari” tersebut dibuka Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, diikuti sekira 3 ribu peserta.

LOMBA FOTO: Anggota PWI Bontang, Yusva Alam saat menyaksikan pameran foto-foto juara dalam rangka HPN yang diselenggarakan di Museum Tokoh-tokoh Pers Nasional. (YUSVA ALAM/PWI BONTANG)

Kemudian ada pula Museum Tokoh-tokoh Pers Nasional, yang dibuka selama rangkaian HPN berlangsung. Ilham Bintang, Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  mengatakan, sudah saatnya memberikan perhatian pada peninggalan tokoh-tokoh pers nasional terutama dari Sumbar. Mengingat Sumbar juga penyumbang tokoh pers nasional di era pergerakan nasional. Perjuangan tokoh pers tersebut perlu disebarluaskan sehingga tidak hanya menjadi milik masyarakat pers tapi juga menjadi milik masyarakat Indonesia umumnya.

“Perlu kita pikirkan bersama untuk membangun museum Pak Adinegoro, Pak Rosihan Anwar atau Ibu Rohana Kudus, dengan konsep kekinian dan tidak jadul agar diminati generasi muda,” ujarnya.

Sebelumnya1 dari 3 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca