Advertorial

Borong Emas di Kutim Open, Pernah Pecahkan Jendela Rumah

SANGATTA- Seluruh masyarakat Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mesti berbangga memiliki atlet panahan muda sekelas Kayla Adinda Utomo. Tak hanya muda, cantik, namun juga memiliki bakat memanah di atas rata-rata. Potensi dimaksud menjadikan Dinda sapaan akrabnya, menjadi asset berharga Kutim di cabor panahan.

Gadis berkacamata yang kesehariannya berhijab ini kerap memberikan prestasi terbaik untuk daerah. Salah satunya menjadi atlet putri peraih medali emas terbanyak di nomor compound bow, pada kejuaraan panahan Bupati Kutim Open yang baru saja berakhir pekan lalu.

Namun sebelum ini, Dinda sudah sering menharumkan nama Kutim di luar daerah. Seperti saat pertama kali meraih presetasi di Kejurprov Samarinda pada nomor Compound Pelajar 30 M, Olympic Rounds Compound Pelajar 30 M dan Best Score pada 2017. Tiga medali emas kala itu menjadi torehan yang sedianya mendapat acungan jempol. Dinda juga sukses meraih beberapa medali di kejuaraan di Kota Balikapapan. Diantaranya Balikpapan Borneo Open dengan satu medali emas di nomor Compound Umum 18 M dan Borneo Fiesta Balikpapan yang harus puas mendapatkan dua medali perak di nomor Compound Umum 30 M dan Olympic Rounds Umum 30 M.

“Awalnya terjun dalam olahraga renang dan sempat menjuarai lomba renang antar daerah di Kalimantan Timur. Namun semakin hari (dewasa), karena saya ingin menjalankan sunah Rasul lainnya (memanah), maka bersama adik laki-laki saya (bernama) Muhammad Dandy Caezarido Utomo, kami belajar memanah dari dasar sejak 2016,” kata Dinda menjelaskan awal dirinya mulai mengenal panahan.

Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Deddy Utomo dan Indah Winarni ini harus melalui suka duka selama menggeluti olahraga panahan. Dari merasakan tangan memar terkena tali busur (string), kulit memerah terbakar sinar matahari hingga pengalaman memecahkan kaca jendela rumah karena terbidik anak panah (arraow) yang salah sasaran.

Dinda yang lahir di Samarinda, 30 September 2002 silam, saat ini masih berstatus pelajar kelas 10 (Kelas 1) Airlangga di SMAN 2 Sangatta. Meski disibukkan dengan kegiatan memanah, Dinda tidak melupakan tugas utamanya yakni sekolah. Manajemen membagi waktu antara sekolah dan berlatih panah mesti dijalani hingga saat ini. Namun ketika Dinda harus bertanding ke luar kota, terpaksa harus izin mengorbankan jadwal sekolahnya.

“Saya melalui orang tua selalu menjaga komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Bagi saya mengejar pelajaran yang tertinggal atau harus ujian seorang diri memang sangat tidak menyenangkan. Tapi membawa medali demi nama harum sekolah, club dan Kutim adalah (juga) impian saya,” sebut gadis berzodiak libra tersebut dengan nada bangga.

Perjalanan menjadi atlet panahan tak selamanya berjalan mulus. Dinda mengaku kadang juga menemui kendala. Tak jarang harus keluar modal terlebih dahulu, untuk membeli peralatan memanah. Apalagi Compound bow yang menjadi spesialisasi Dinda membutuhkan biaya dan perawatan yang tidak murah. Harga Compound bow beserta perlengkapnnya bila ditotal bisa seharga satu unit mobil. Beruntung orang tua selalu memberikan dukungan terhadap dirinya. Walaupun biaya masih menjadi kendala utama, akan tetapi Dinda sadar jika berkeinginan kuat, terus berlatih, bedoa, dan berusaha, semua pasti terlewati.

Tak hanya sampai disitu, demi menggapai cita-cita sebagai atlet panahan nasional, Dinda merasa harus berlatih lebih giat lagi. Bersama Mas Archery Club Kutai Timur sebagai club yang menaunginya, Dinda sedang dipersiapkan untuk maju dalam ajang panahan di Samarinda pada bulan Juli nanti. Persiapan Poprov remaja September, Kejuprov di Oktober dan tentunya Porpov Kaltim November mendatang. (hms14)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button