Kaltim

Daging Impor Tekan Daging Lokal 

SAMARINDA – Keberadaan daging sapi impor yang harganya jauh lebih murah ketimbang daging dalam negeri dikeluhkan sejumlah pedagang di Samarinda. Sebab daging yang umumnya didatangkan dari Australia, Jerman, dan India itu dapat memperlemah nilai jual daging dalam negeri.

Abdul Wahab (45), seorang pedagang di Pasar Pagi Samarinda, mengaku keberadaan daging impor mengakibatkan harga daging lokal sulit dinaikan harganya. Karena itu nyaris selama 2018 ini harga daging tetap stabil.

Umumnya setiap kilogram (kg) daging lokal yang berkualitas bagus dijual Rp 125 ribu. Sedangkan kualitas menengah dijual Rp 120 per kg. Wahab mengungkapkan, harga tersebut sering kali akan berubah apabila stok daging impor lebih banyak.

“Daging yang datang dari Australia itu harganya anjlok. Mungkin karena banyak stok. Ambilnya hanya dengan harga Rp 90 ribu. Jadi pedagang kadang menjualnya Rp 100 ribu,” ungkapnya, Sabtu (12/5) kemarin.

Meski demikian, bukan berarti daging dalam negeri kalah kualitasnya ketimbang daging luar negeri. Sebab daging impor pada umumnya telah melewati proses pengawetan dalam waktu yang lama.

Kondisi demikian tentu saja disebabkan proses pengiriman yang membutuhkan waktu berhari-hari. Akibatnya, daging mudah menghitam. Sehingga para pedagang harus memutar akal untuk tetap mempertahankan kualitas daging tersebut.

Sedangkan daging yang didatangkan dari Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan, tidak memerlukan pengawetan. Pasalnya daging dipotong setiap pagi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Samarinda.

“Jadi kalau pun tidak terjual di hari pertama, tetap saja segar kalau dijual lagi di hari berikutnya. Daging dalam negeri itu sudah teruji kualitasnya. Sedangkan daging impor kualitasnya kurang bagus,” ucapnya.

Pedagang daging lainnya, Bahtiar (32) mengungkapkan, pada umumnya pedagang tidak kesulitan mendapatkan daging impor. Jika ada uang, maka agen akan langsung menyediakannya.

“Biasanya bayar di muka. Kalau  uang ada, biasanya mudah saja dapatkannya. Karena agen itu tidak mau repot. Harus cepat berputar hasil penjualannya,” sebut dia.

Bahtiar mengaku, daging impor banyak mendatangkan keuntungan bagi pedagang. Hal demikian terjadi karena daging banyak diburu pembeli. Sebab karakter pembeli di Kaltim lebih senang daging dengan harga murah, tanpa memperhatikan kualitas.

“Apalagi di hari-hari besar seperti Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru. Biasanya pembeli itu ambil dalam jumlah banyak. Mereka tidak melihat bagus atau tidaknya kualitas daging. Yang penting murah,” ujarnya. (*/um)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button