oleh

Kutim Belum Punya Gereja Ramah Anak 

SANGATTA – Dalam upaya mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA), Kutai Timur (Kutim) berencana menggalakkan program gereja ramah anak, untuk itu secara khusus, sejumlah gereja Kutim mengikuti pembelajaran di Balikpapan agar dapat diimplementasikan.

Kasi Hak Sipil, Informasi dan Partisipasi BPPA, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim, Yuliana, mengatakan sesi yang dipandu oleh Biro Perempuan dan Anak (BPA) ini, berjalan cukup menarik. Memberikan banyak pengetahuan baru yang dapat diterapkan di setiap gereja se- Kutim.

Sedangkan perwujudan gereja ramah anak, menurutnya belum semua tempat dapat mewujudkannya. Hal ini lebih disebabkan adanya keterbatasan ruang dan sumber daya manusia (SDM).

“Gereja Ramah Anak merupakan salah satu indikator KLA dibidang keagamaan. Di Kutim sendiri tidak ada gereja bertaraf seperti itu, karena belum ada yang dilatih KHA dan PHA. Maupun mengikuti sosialisasi UU perlindungan anak,” tuturnya.

Menurutnya sejumlah gereja di Kutim terus berupaya agar semakin layak anak. Baginya kebutuhan dan hak anak harus dipenuhi. Hal tersebut berguna agar anak di wilayahnya terjamin keamanan hidup masa kini dan masa mendatang.

“Gereja ramah anak adalah yang mampu menghadirkan kasih Allah, mengasihi tanpa diskriminasi dan tanpa syarat, mengutamakan kepentingan terbaik anak, memberikan ruang untuk anak berpartisipasi seluas-luasnya, dan memberikan hak-hak dasar anak seperti keberlangsungan hidup, tumbuh kembang, partisipasi perlindungan,” ujarnya.

Dia berharap usai mengikuti pelatihan ini, diharap 15 orang yang mewakili dapat membantu mewujudkan Kutim menjadi layak anak, terlebih di tempat ibadah masing-masing yang harus diutamakan kelayakannya.

“Kedepan diharapkan ada dan jika memungkinkan semua gereja menjadi ramah anak.
Mengingat gereja-gereja memiliki banyak sekali anak-anak. Tempat ibadah sangatlah penting, pasalnya gereja merupakan sarana srategis untuk pendidikan revolusi mental, pendidikan karakter anak dan keluarga, serta tempat anak berpartisipasi melalui kelompok Sekolah Minggu, kelompok PAUD, bahkan kelompok remaja,” tutupnya. (*/la)

Bagikan berita ini!
  • 3
    Shares
loading...