Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Sangatta

Canggih! KPC Ubah Unit Uzur Jadi Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan, Dikerjakan Karyawan di Sela Waktu Libur 

Published

on

Dibaca normal 2 menit

SANGATTA – Dalam upaya menjaga ekosistem, peluncuran mobil listrik merupakan terobosan jitu bagi PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pasalnya hal tersebut dirasa mampu mewujudkan penggunaan energi bersih. Selain itu bahkan dapat mengurangi anggaran, terlebih dalam meminimalkan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sebab itulah pihaknya berharap regulasi dari pemerintah, untuk segera mewujudkan perizinan penggunaan kendaraan listrik di jalan umum di Kutai Timur (Kutim).

Menurut Supt Comp. Management (ECM) PT. KPC, Sahirul Alim mengatakan gagasan awal pembuatan mobil listrik berjenis blazer tersebut dicetuskan oleh pihak manajemen sendiri.

“Awalnya manajemen yang punya ide, kemudian menunjuk tim untuk mengerjakannya. Kebetulan saya dengan tiga kawan lainnya yang bertugas,” ujarnya saat diwawancarai di area tes mobil, Rabu (6/6).

Sahirul mengaku segala upaya telah dilakukannya. Baginya percobaan ini dilakukan sejak 2015 silam. Menurutnya dalam pembuatan mobil listrik ini bukan pekerjaan yang utama, sehingga mengharuskan dia dan timnya menyisihkan waktu libur untuk menggarap hingga tuntas.

“Yang jelas hal seperti ini tidak boleh mengganggu produktivitas jam kerja. Jadi kami mengerjakannya diluar jam kantor, paling-paling hanya Sabtu dan Minggu saja. Kami laksanakan ini sejak Mei 2015 lalu, mulai dari membongkar mesin hingga selesai dan dapat dilakukan ‘test drive’ pada Febuari 2016,” terangnya.

Melihat banyaknya mobil tua di perusahaan tempatnya bekerja, blazer terpilih untuk disulap menjadi lebih baik. Menghabiskan dana sekira Rp 300 juta bukan menjadi masalah. Pasalnya mobil dengan tujuan menjaga keramahan lingkungan tersebut berhasil diciptakan lebih bermanfaat. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mobil tua lainnya dapat pula dimanfaatkan dengan cara yang sama.

“Kami sadari masih banyak kekurangan dalam penyelesaiannya. Pengerjaannya pun terbilang mahal, karena baterai yang harganya sangat memakan anggaran belum diproduksi dalam negeri. Jadi kami harus memesan ke Tiongkok. Selain itu kami berencana akan memasang sel surya, agar baterainya dapat terisi secara otomatis. Dalam kekurangan lain, kami sedang memesan alat agar dapat di-charger di rumah sekalipun,” katanya.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments