Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Opini

Dinamika Pemilihan Kepala Daerah di Kaltim 

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Oleh: Rajja

“Kekacauan, kecurangan, kurang pengawasan, keterpurukan, karut-marut, dan lain-lain potret negatif, yang sering dialamatkan kepada penyelenggara pemilu di negeri ini, Kalimantan Timur tidak terlepas dari wacana itu”. Wacana dan narasi terus bergulir setiap pemilu dan pemilihan kepala daerah, berbenah diri tidak ada lain ketika wacana melebar dan menyudutkan penyelenggara pemilu, apalagi bangsa ini adalah bangsa yang majemuk, mudah terpancing oleh issu-issu hoax yang tak berdasar dan bertuan.

Penyelenggara pemilu harus bertaring dan diperlukan integritas tinggi dalam menyikapi wacana tersebut. Untuk membuktikan bahwa penyelenggara pemilu adalah penyelenggara yang bersih dari wacana negatif dan berbalik menjadi wacana positif. Harapan bangsa ini, Setiap 5 tahun diadakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) memilih calon yang terbaik “begitulah gaung yang melekat setiap 5 tahun di seluruh lapisan masyarakat yang pada
kenyataannya diharapkan berdampak pada kepentingan daerah, bangsa, dan negara untuk tujuan negara ini semakin maju bukan malah semakin mundur dengan hadirnya calon pemimpin baru”.

Hal ini yang menjadi alasan utama diadakanya pesta demokrasi setiap 5 tahun, pertama diadakanya pemilihan kepala daerah adalah untuk mengcover kepentingan-kepentingan yang ada di daerah supaya pembangunan merata, adil dan makmur, kedua supaya adanya kemajuan
baik dalam bentuk fisik maupun dalam tatanan social daerah itu, ketiga diharapkan mampu mengontrol kepentingan daerah yang jauh dari pemerintah pusat, keempat agar tercipta keamanan yang baik. Pendekatan-pendekatan seperti inilah yang diharapakan, bukan malah
sebaliknya menciptakan bibit-bibit konflik.

Melihat sejarah demokrasi kita yang netabene masyarakat beragam dan multikultur biasanya setelah pesta demokrasi sering terjadi kerusuhan, kerukunan antar umat beragama terggangu, tetangga tidak akur, dan gangguan keamana lainya, akibat, adanya pendukung panatik yang
kalah dalam pemilu sehingga menimbulkan bibit komplik dan ahirnya melebar dalam ruang-ruang publik yang sulit untuk diredam.

Sebelumnya1 dari 4 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca