Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Sangatta

Dua Desa di Kutim Belum Tersentuh Listrik Rantau Pulung Belum Menyala Total 

Published

on

Dibaca normal 1 menit

SANGATTA – Belum semua kecamatan di Kutai Timur (Kutim) bisa merasakan aliran listrik dan air bersih. Padahal pemerintah menargetkan 2020 seluruh wilayah dapat hidup lebih baik. Namun faktanya, kurang dari dua tahun dengan rentan waktu yang ditentukan, progres tersebut masih terbilang jauh.

Nampaknya permasalahan listrik dan air ini sudah menjadi PR pemerintah sejak lama. Kendati seperti itu, sepertinya masyarakat di pelosok Kutim telah terbiasa dengan kondisi yang ada.

Masih banyak desa di pedalaman dari sejumlah kecamatan yang belum bisa menikmati sentuhan listrik seutuhnya, layaknya masyarakat yang menetap di Sangatta. Sehingga pemerintah terus berupaya  meratakan pasokan listrik dan air bersih di seluruh wilayah.

Menurut Camat Rantau Pulung, Mulyono, ia mengatakan di wilayah yang dipimpinnya, distribusi kebutuhan seperti itu belum optimal.

“Belum semua desa merasakan listrik dan air bersih. Masih ada sekira 20 persen masyarakat belum mengenal listrik PLN yang menyala selama 24 jam,” ujarnya dalam agenda coffee morning belum lama ini.

Dia menceritakan, masih adanya dua desa yang mengandalkan mesin genset sebagai pemasok listrik. Bahkan ia mengaku tidak hanya permasalahan listrik saja, namun distribusi air bersih mengalami kondisi yang sama.

“Belum rata, baru sembilan desa yang teraliri listrik. Kasihan yang dua lagi, mereka masih pakai genset sebagai penerang. Selain itu, Rantau Pulung juga sangat membutuhkan air bersih dari PDAM,” katanya.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan pada pimpinan rapat, bahwa masih minimnya sekali kecamatannya mendapat pasokan air bersih.

“Ada malah desa yang sudah masuk air tapi belum ada listriknya. Ya seperti di Rantau Makmur, dan Rantau Multi Jaya. Seperti itu masalahnya. Semoga saja semua wilayah bisa mendapatkan fasilitasnya dengan waktu yang sudah ditargetkan,” jelasnya. (*/la)

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca