oleh

PPDB Online Dinilai Sulitkan Siswa  Dikeluhkan Wali Murid, Pemkot Diminta Lakukan Evaluasi

SAMARINDA – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis online di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Samarinda banyak menuai masalah. Banyak orang tua siswa yang meluapkan kekesalannya di media sosial, hingga berusaha mendatangi dinas terkait untuk menuntut penjelasan dan solusi terkait sistem zonasi yang membuat anak mereka tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Namun, hasilnya nihil.

Seperti Hasan, salah satu orang tua siswa yang anaknya terancam tidak dapat sekolah karena tidak diterima di SMP di dekat rumahnya. Sedangkan untuk masuk di sekolah swasta, tak adanya biaya dan jauhnya jarak yang harus ditempuh menjadi pertimbangan serius pria yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh lepas ini.

“Biaya di sekolah swasta mahal. Selain itu jauh, juga tidak ada biaya dan kendaraan. Mau suruh anak jalan kaki ke sekolah juga kasihan,” tuturnya kepada Metro Samarinda, saat sedang memberikan pengaduan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pokja 30 di Jalan Gitar, Samarinda, Jumat (13/7) kemarin.

Hal ini berawal ketika ia baru saja kembali ke Samarinda usai mengunjungi keluarga yang meninggal di tanah kelahirannya. Ia pun merasa kebingungan melihat anaknya yang menangis karena tidak diterima di SMP Negeri 3 Samarinda di Jalan La Madu Kelleng, Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang. Walau jarak rumahnya dengan sekolah hanya sekitar 120 meter.

Sedangkan, ada anak tetangga yang satu rukun tetangga (RT) dengan dirinya memiliki nilai ujian nasional yang lebih rendah dapat diterima di sekolah itu. Hal ini pun menjadi tanda tanya besar untuk Hasan. “Anak saya ini nilai ujian nasionalnya 19, namun tidak diterima. Nah, ada tetangga yang nilai ujian nasional anaknya 14, diterima di sekolah itu,” ucapnya.

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share