Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia

Published

on

Dibaca normal 3 menit

Oleh: Dahlan Iskan

Ini bukan sepak bola. Yang tiap menjelang musim kompetisi terjadi transfer pemain. Klub kuat mengincar-incar: di klub mana ada pemain jadi. Yang bisa dibeli.

Karena ini bukan sepak bola. Justru partai lemah yang mengincar caleg jadi. Dari partai lemah lainnya. Bahkan dari partai kuat sekali pun. Asal transaksi cocok.

Mula-mula saya tidak paham arah pembicaraan seperti itu. Seolah pengetahuan sepak bola saya begitu dangkalnya. Tapi, oh. Ini bukan pembicaraan sepak bola.

Pembicaraan itu terjadi di ruang tunggu. Yang bicara para tokoh politik muda. Dari banyak partai. Di acara perkawinan hari Minggu lalu. Tokoh Amal Ghozali yang mantu. Pengusaha pertanian yang sukses. Juga pengurus pusat partai Demokrat. Di Taman Mini Indonesia Indah.

Saya dan Ustadz Yusuf Mansyur hanya diam mendengarkan. Sekilas. Tidak lagi tinggi minat kami berdua di bidang itu. Bahkan saya lebih banyak di luar negeri. Belakangan ini. Dan yang akan datang.

Pembicaraan mereka itu penuh dengan humor. Sesekali kami berdua ikut tertawa. Agar tidak tampak ganjil. Tapi saya dan ustadz Yusuf Mansyur lebih sering berbisik untuk topik lain.

Seandainya masih ada minat politik, omongan mereka itu sungguh menarik. Ada satu partai yang jadi pusat pembicaraan mereka. Yang hasil surveinya selama ini jeblok. Di bawah 2 persen. Tidak akan lolos masuk parlemen. Hari itu baru saya tahu: ada batasan persentase 2 persen untuk bisa masuk parlemen. Khas Indonesia, rupanya.

Saya juga baru tahu: Minggu malam itu adalah hari-hari menegangkan. Batas waktu pendaftaran calon anggota legislatif tinggal tiga hari. Bisa terjadi saling geser posisi. Bisa saling tendang ke nomor sepatu –istilah untuk nomor urut terakhir. Tegang sekali, kata mereka. Saya sama sekali tidak tahu.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments