oleh

Koperasi Pedalaman Ukir Prestasi Nasional Berlokasi di Desa Miau Baru, Masuk Kategori Koperasi Produsen Bidang Kelapa Sawit.

SANGATTA – Tak disangka, koperasi di daerah pedalaman pun mampu mengukir prestasi. Koperasi Karya Sejahtera, yang berlokasi di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutim ini, tercatat sukses meraih penghargaan di Hari Koperasi Nasional ke-71, di Tangerang, Banten, belum lama ini. Masuk dalam kategori koperasi produsen yang bergerak di bidang kelapa sawit.

Sekretaris II Koperasi Karya Sejahtera, Yonatan Luhut mengucap syukur dan terima kasih atas dukungan semua pihak, dari mitra kerja hingga pemerintah Kutim. Khususnya Dinas Koperasi yang telah membina, membimbing, hingga menghantarkan koperasi ini bersaing di kancah nasional.

“Seluruh Indonesia ada 50 peserta. Kami diseleksi mulai dari kabupaten, provinsi, hingga di kementerian. Dari Kalimantan Timur dua yang lolos yakni Balikpapan dan Kutim,” bebernya saat ditemui di Dinas Koperasi, Rabu kemarin.

Luhut menambahkan, proses seleksinya dilakukan sejak Januari dan intensif ditekannya awal April. Adapun aspek penilaian yang dilakukan mulai kepemilikan Nomor Induk Koperasi (NIK), pengorganisasian, lalu manajemen hingga ketepatan waktu dalam melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Dari manajemen lanjutnya, memiliki 1. 038 anggota. Sedangkan luas kebun kepala sawit yang bermitra dengan luas 2. 000 hektare dan tersebar di 7 Desa.

“Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi koperasi lain,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi, Muhammad Husaini mengharapkan, dari prestasi ini bisa memicu koperasi lain berbuat hal sama bahkan melebihi. Sedangkan program pendampingan akan terus dilakukan. Tentu dalam pembinaan itu tetap menonjolkan sistem sinergitas, mulai dari perusahaan, pelaku usaha, dan pemerintah.

“Selain target meraih penghargaan. Menghasilkan koperasi yang sehat jadi tujuan utama,” tegasnya.

Untuk diketahui, Koperasi Karya Sejahtera telah terbentuk sejak tahun 1999. Hasil produksi dari koperasi ini 3000 hingga 5000 ton sawit perbulannya. Sedangkan pola yang diterapkan dalam pembagian hasilnya masih 80 : 20. Hasil dari 80 dipergunakan untuk lahan, mulai pengelolaan kebun hingga angsuran ke bank. Sedangkan 20 diberikan ke anggota perbulan, nilainya berkisar Rp 1 jutaan.(dy)

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share
loading...