Kaltim

Parpol Hanya Kendaraan Politik

SEMENJAK pengusungan bakal calon legislatif (caleg) pada Selasa (17/7) lalu, tahapan perebutan kursi di DPRD Kaltim sudah mulai ditabuh. Sejumlah politisi senior yang telah malang melintang di dunia politik kembali beradu nasib untuk meraih kursi di gedung Karang Paci, julukan DPRD Kaltim.

Namun demikian, tidak sedikit bacaleg pendatang baru yang bertarung di pemilu serentak 2019. Kalangan muda mulai menghiasi panggung politik. Mereka mencalonkan diri sebagai wakil rakyat lewat 16 partai politik (parpol) peserta pemilu.

Pengamat hukum dan politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Sarosa Hamongpranoto mengatakan, pertarungan politisi senior dan muda akan berjalan alot di pemilu tahun depan. “Memang sekarang sudah mulai muncul caleg muda. Hanya saja mereka belum punya nama. Jadi agak sulit untuk tampil dan menang. Kecuali ada kekuatan finansial yang memadai,” ujarnya, Sabtu (21/7) kemarin.

Menurutnya, pertarungan politik di era reformasi memerlukan banyak keunggulan. Sehingga satu keunggulan yang dimiliki caleg, belum tentu mengantarkannya untuk memenangkan hati pemilih. “Nanti bukan hanya soal figur. Tetapi juga faktor-faktor lain akan mendukung calon untuk menjadi anggota legislatif. Sehingga realitas politik sekarang berbeda dengan politik zaman dulu,” imbuh Sarosa.

Atas dasar itu, bagi politisi muda, upaya merebut hati pemilih dan tampil menjadi caleg yang unggul di mata rakyat bukan hal yang mustahil. Dengan catatan, politisi muda harus menunjukkan bukti kelayakannya mewakili rakyat.

“Mereka harus meyakinkan bahwa politisi muda ini bisa bekerja mewakili masyarakat. Juga punya kapasitas dan program yang bisa menyentuh masyarakat. Itu harus intens mempromosikan program yang mereka punya,” sebutnya.

Guru besar Unmul Samarinda itu menyatakan, selain faktor figur, penyebab kemenangan di Pemilu Legislatif (Pileg) yakni parpol pengusung dan pemahaman terhadap karakter pemilih. Faktor terakhir memiliki pengaruh signifikan bagi calon yang ingin memenangkan pileg.

“Perlu pengetahuan yang memadai bagi caleg untuk memahami karakter pemilih di Kaltim. Pendekatan-pendekatan maksimal pada pemilih akan sangat berpengaruh ke depan. Kerja calonlah yang akan menentukan kemenangan,” tutur Sarosa.

Sementara bagi parpol pengusung, lanjut dia, tidak terlalu memengaruhi keterpilihan caleg. Pasalnya parpol hanya dijadikan kendaraan politik. Selebihnya ditentukan kerja keras caleg itu sendiri. “Jadi sebenarnya parpol itu hanya kendaraan. Tidak maksimal mendukung perolehan suara. Kuncinya ada pada masing-masing caleg sendiri,” terangnya.

Usaha mendekati dan memengaruhi pemilih tersebut, sambung Sarosa, menjadi faktor yang tidak kalah penting bagi caleg. Karenanya, ketokohan dan rekam jejak erat kaitannya dengan tingkat keterpilihan di Pemilu 2019.

“Walaupun politisi senior, kalau rekam jejaknya tidak baik, bisa saja tidak terpilih. Kesimpulannya tergantung kemampuan caleg mempengaruhi pemilih. Selebihnya kerja keras mereka,” tutupnya. (*/um)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button