oleh

Cari Penyebab Harga Daging Ayam Melonjak, DPRD: Ini Tugas Eksekutif 

BONTANG – Mahalnya harga daging ayam membuat legislator angkat bicara. Anggota Komisi II DPRD Ma’ruf Effendy mengatakan, salah satu tugas pemerintah dalam hal ini Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yakni melakukan pengendalian harga.

“Ini tugasnya eksekutif untuk mengendalikan harga komoditas pangan termasuk daging ayam,” kata Ma’ruf kepada Bontang Post, Senin (23/7) kemarin.

Ma’ruf berharap, pemerintah segera melakukan intervensi. Tujuannya untuk mengetahui penyebab melonjaknya harga daging ayam. Caranya dengan melakukan survei ke lapangan. “Dicari permasalahannya seperti apa. Kemudian mengambil langkah-langkah secara konkrit agar harga kembali stabil,” tutur Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Padahal sebentar lagi umat muslim akan merayakan Hari Raya Iduladha. Secara otomatis permintaan daging ayam akan mengalami peningkatan. “Daging ayam merupakan kebutuhan pokok, perlu ada intervensi kebijakan dari pemerintah ini,” ujarnya.

Sementara Sekretaris Komisi II Suwardi akan melakukan koordinasi dengan ketua komisi II mengenai permasalahan ini. Ia pun belum dapat memastikan apakah langsung menggelar kunjungan lapangan dalam waktu dekat, atau memanggil Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskop-UKMP) dalam rapat kerja.

“Saya koordinasi terlebih dahulu dengan ketua, apakah bisa sidak atau melakukan rapat kerja dengan OPD terkait,” kata Suwardi.

Jika dilakukan rapat kerja terlebih dahulu, maka dua permasalahan langsung ditanyakan kepada Diskop-UKMP. Selain tidak stabilnya harga beberapa komoditas pangan, Komisi II juga menanyakan sehubungan menjamurnya minimarket waralaba.

Terkait mahalnya harga daging ayam, politisi Partai Gerindra ini berharap jajaran dari OPD terkait segera melakukan survei lapangan. Tujuannya agar dapat segera dicari solusi untuk menekan harga komoditas pangan jelang Iduladha.

Seperti diketahui, harga daging ayam di pasaran mencapai Rp 100 ribu per ekornya. Nominal tersebut untuk mendapatkan daging dengan ukuran besar. Bukan hanya mahal, pasokan komoditas tersebut juga langka sehingga pedagang hanya mendapat jatah sepertiga dari kuota sebelumnya. (ak)

Bagikan berita ini!
  • 27
    Shares