oleh

Kaligrafi TKW

Oleh: Dahlan Iskan

Beredar luas: video TKW yang ahli menulis kaligrafi huruf Mandarin. Seseorang minta saya menulis di disway.id: benarkah itu?

Seseorang itu adalah orang yang saya hormati: Harjoko Trisnadi. Wartawan senior. Usia 83  tahun. Masih sehat. Dapat penghargaan di hari pers nasional tahun ini. ”Saya kan tidak bisa bahasa Mandarin. Anda lebih tahu isinya,” ujar Pak Harjoko. Ia Tionghoa. Asal Semarang. Tidak bisa bahasa Mandarin.

Di video itu tidak ada identitas. Tidak ada nama. Hanya disebut: TKW di Taiwan.

Saya mencoba menghubungi jaringan saya di Taiwan.

Ketemu: namanya Lisa. Bujangan. Asal Palembang. Tempat kerja: Taichung. Satu kota besar di Taiwan tengah. Pertengahan antara Taipei (utara) dan Kaoshiong (selatan).

Sayangnya Lisa tidak punya email. Tidak punya WA. Tidak punya WeChat. Hanya bisa ditelpon. Itu pun terbatas. Dia type pekerja yang disiplin. Tidak mau selalu bawa HP.

”Nama asli saya Lestari pak. Dipanggil Lisa,” katanya pada saya. Dalam bahasa Mandarin. Yang nyaris sempurna. Dibanding Lisa bahasa Mandarin saya tidak ada sekukunya.

Nama ‘Lestari’ memang tidak mudah diucapkan oleh lidah sana. Tidak ada huruf China yang bunyinya ‘Les’. Tepat sekali kalau Lestari memilih nama panggilan Lisa.

Sudah 12 tahun Lisa di Taiwan. Di majikan yang sama. Sudah dianggap keluarga sendiri.

Tugasnya sehari-hari adalah menjaga orang tua. Yang kian tua. Kian rapuh. Usianya kini 90 tahun. Stroke.

Sejak juragannya stroke itulah Lisa tidak punya banyak waktu lagi belajar kaligrafi. Harus menemani orang tua itu: 24 jam. Tidak pernah libur. Lebaran tahun ini pun tidak pulang.

Guru kaligrafinya juga tidak ada lagi. Tapi Lisa sudah keburu pandai. Karyanya sudah banyak. Misalnya dua banner yang dia pegang itu. Yang filsafat di balik kaligrafinya sangat dalam. Yang tulisan kaligrafinya lumayan indah. Seperti yang dipegang di tangan kanan Lisa. Bunyinya:

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share
loading...

Komentar