Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Si Playboy Itu Bisa Jadi PM

Published

on

Dibaca normal 5 menit

Oleh: Dahlan Iskan

Ia dikenal playboy. Tukang kawin cerai. Banyak pacar.

Ia memang ganteng sekali. Dulu. Sangat laki-laki. Sampai sekarang. Dan mega bintang. Selamanya. Sampai sekarang: 65 Tahun.

Zaman memang sudah berubah. Ia terpilih sebagai perdana menteri. Di sebuah negara Islam: Pakistan.

Itulah hasil Pemilu Pakistan tanggal 25 Juli kemarin. Yang diikuti 10 partai. Yang tiga besarnya itu-itu saja: partainya Nawaz Sharif yang aliran tengah-kanan, partainya Bhutto yang tengah-kiri dan partainya Imran Khan yang tengah-agak-kanan.

Tujuh partai lainnya habis. Partai-partai Islam kanan tidak mampu lagi bersaing. Perolehan suaranya terus merosot.

Kini giliran roda Imran Khan yang di atas. Setelah tiga kali Pemilu yang lalu kalah.

Nama Imran Khan tentu Anda kenal, bukan?

Imran Khan adalah olahragawan terbaik Pakistan. Bintangnya bintang. Ia pemain kriket. Yang permainannya seperti kasti itu. Imran kapten tim nasionalnya. Namanya langsung menyentuh langit: saat Pakistan jadi juara world cup kriket. Tahun 1992.

Itulah untuk pertama kali Pakistan juara dunia. Sekaligus yang terakhir kali.

Imran Khan memang berotak bintang: tidak mau lagi main kriket setelah itu. Ia tahu kapan dan di mana harus berhenti. Justru saat masih di langit. Seperti pembalap F1 dari Jerman itu: Nico Rosberg. Seperti juga bomsex Marylin Monroe. Atau raja rock n roll Elvis Presley. Kebintangannya menjadi abadi.

Bedanya: Imran Khan langsung banting stir. Masuk politik. Mendirikan partai baru: Partai Jalan Insyaf. Pakistan Tareeq al Inshaf. PTI.

Imran tahu politik itu kejam. Jahat. Ruwet. Penuh risiko. Tapi ia merasa tertantang. Ciri khas orang suku Pastun. Terutama untuk jadi alternatif. Agar tidak hanya ada dua kubu. Yang terus berseberangan. Sepanjang sejarah modern Pakistan.

Sebelumnya1 dari 4 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments