Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Gadget

Prancis Haramkan Gadget di Sekolah

Published

on

Dibaca normal 2 menit

Semakin tingginya angka kecanduan remaja Prancis terhadap gawai membuat Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer resah. Anak-anak usia sekolah menjadi generasi cuek.

Mereka tak lagi peduli teman dan lebih gemar menatap layar gawai. Karena itu, mulai bulan depan, pemerintah melarang gawai masuk sekolah.

’’Peran utama pemerintah adalah melindungi anak-anak dan remaja,’’ ujar Blanquer dalam wawancara dengan stasiun televisi Prancis BFMTV Selasa (31/7) waktu setempat.

Salah satunya adalah melindungi mereka dari ancaman gawai. Dia tidak mau Prancis melahirkan generasi muda yang hanya peduli kepada diri mereka sendiri dan dunia maya dalam angan-angan mereka.

Bagi Blanquer, memerangi kecanduan generasi muda terhadap gawai adalah hal yang penting. Karena itu, sejak Desember lalu, dia memaparkan gagasannya di parlemen. Yakni, melarang penggunaan smartphone, tablet, dan benda apa pun yang mudah terkoneksi internet di lingkungan sekolah.

Senin (30/7) parlemen menerima usul Blanquer. Menurut CNN, ada 62 anggota parlemen yang mendukung gagasan tersebut, sedangkan yang menolak hanya satu orang. Lantas, ke mana suara yang lain? Sisanya memilih abstain.

Sebab, menurut mereka, pemungutan suara soal larangan bergawai itu hanyalah upaya Presiden Emmanuel Macron dan kubunya untuk mendongkrak popularitas.

Dalam kampanyenya sebelum menjadi presiden, Macron memang berjanji memperketat aturan soal gawai. Terutama di sekolah-sekolah. Suami Brigitte itu yakin regulasi tersebut tidak akan sulit diterapkan di Prancis.

Sebab, pada praktiknya, aturan seperti itu sudah berlaku sejak 2010. Saat itu tidak ada siswa maupun guru yang boleh mengaktifkan telepon genggam di dalam kelas.

Namun, Blanquer menolak anggapan tersebut. Dia menegaskan bahwa usul itu murni lahir dari kepedulian pemerintah terhadap generasi muda. Menurut dia, tingkat ketergantungan remaja Prancis pada gawai sudah sangat memprihatinkan.

Di sekolah, nyaris tidak ada siswa yang berinteraksi dengan temannya karena asyik dengan smartphoe atau tablet dan smartwatch mereka.

Selain itu, sekolah-sekolah menjadi hening saat jam istirahat tiba. Sebab, tidak ada siswa yang bermain atau melakukan aktivitas fisik. Mereka lebih senang duduk-duduk sambil memainkan gawai.

Fenomena tersebut tentu saja berdampak pada kesehatan dan perkembangan psikologis remaja. Karena itu, pemerintah harus bertindak. Mulai September, tidak ada gawai yang boleh aktif di lingkungan sekolah. Mulai TK sampai SMP.

Anak dan remaja usia 3–15 tahun memang menjadi sasaran utama regulasi tersebut. Pasalnya, di rentang usia itulah kebiasaan-kebiasaan baik bisa ditempa. (sha/c22/hep/jpnn)

Advertisement
Comments