Feature

Mengenal Paman Doblang, Inisiator Komunitas Berbuat Saja

Keprihatinan terhadap lingkungan sekitar membuat seorang pria asal Kediri berinisiatif menggalang dana dengan cara mengamen. Di bawah naungan “Komunitas Berbuat Saja”, pria bernama Santoso yang karis dipanggil Paman Doblang ini mampu mengumpulkan jutaan rupiah.

DEVI, Samarinda

Sebagai inisiator sekaligus ketua Komunitas Berbuat Saja (Kombes), Santoso atau yang lebih dikenal dengan nama Paman Doblang menuturkan, awalnya komunitas ini terbentuk karena keprihatinan terhadap salah seorang korban tabrak lari. Hatinya tersentuh melihat anak yang kemungkinan akan mengalami cacat setengah badan seumur hidupnya hanya tidur dengan alas seadanya.

Dari sana, dia bersama seorang teman berinisiatif menggalang dana membelikan anak tersebut sebuah kasur. “Jadi awal niatnya Kombes ini untuk membantu salah seorang anak korban tabrakan. Kami mau membelikan kasur seharga Rp 380 ribu buat dia, makanya ngamen. Alhamdulillah waktu itu dapatnya Rp 500 ribu,” tutur Santoso.

“Niatnya sih untuk bisa membantu siapa saja yang memerlukan, namun tidak bisa dibantu dari rumah sakit karena rumitnya administrasi dan lain-lain,” tambahnya.

Santoso berkata, sebutan Paman Doblang dia dapatkan dari puisi WS Rendra yang digunakanbnya sebagai nama band kala itu. Sedangkan untuk nama komunitas sendiri, karena terlalu panjang, lambat laun disingkat menjadi Kombes. Komunitas ini telah resmi menjadi salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Samarinda.

Dikisahkan, nama ini terinspirasi dari kalimat yang sebenarnya sering dikatakan oleh Paman Doblang sendiri. “Dalam hidup yang penting berbuat saja, tidak usah terlalu mengkhawatirkan komentar orang,” kata pria kelahiran 1967 ini.

Berawal tiga orang anggota, kini Kombes memiliki anggota tetap sebanyak sebelas orang. Jumlah tersebut merupakan orang-orang yang mengurus administrasi Kombes, tidak termasuk para musisinya. Mereka semua turut membantu Kombes dengan sukarela alias tanpa bayaran.

Santoso menuturkan, komunitas yang digawanginya sejak 2016 ini memiliki rutinitas per pekan. Mereka sering mengamen di Gor Sempaja untuk menggalang dana. Dalam setiap aksinya tersebut, komunitas ini bisa menghasilkan rata-rata Rp 1,5 hingga Rp 2 juta. Jumlah yang ternilang fantastis dari mengamen selama dua jam sehari.

Namun begitu, Kombes bukan sekadar mengamen. Aksi mengamennya kerap diisi penampilan oleh seniman-seniman terkemuka di Kota Tepian. Sehingga kualitas pertunjukannya tidak perlu diragukan. Melalui penampilan tersebut, tak heran bila mereka bisa mendapatkan dana dengan jumlah tersebut.

Sebagian pihak penasaran dengan cara Santoso mengumpulkan musisi-musisi ternamadalam setiap pertunjukannya. Dia hanya mengatakan, para musisi itu datang sendiri dengan sukarela tanpa paksaan. “Mereka (para musisi, Red.) bilang, ada yang hilang kalau tidak ikut ngamen bersama Kombes. Jadi mereka datang terus setiap minggu,” tutur Santoso.

Suami dari Mujiati ini menuturkan, awalnya semua alat untuk ngamen merupakan pinjaman. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang Kombes telah memiliki peralatan sendiri meliputi alat musik, genset, hingga sound system dengan total aset sekira Rp 10 juta. “Penginnya punya ambulans gratis sendiri. Karena saya tahu betapa mahalnya biaya untuk ambulans,” ungkapnya.

Selain aktif di Kombes, Santoso yang telah merantau ke Samarinda sejak 1985 ini juga merupakan seorang sopir ambulans di salah satu instansi di Samarinda. Selain itu dia juga pembina organisasi Orang Indonesia (OI) Kaltim.

Menggeluti pekerjaan sebagai sopir ambulans dalam lima tahun terakhir, mempertemukan pria paruh baya ini dengan berbagai tipe orang yang mengalami kesulitan. Mulai dari yang tidak memiliki biaya untuk memulangkan jenazah hingga yang memiliki penyakit memprihatinkan lainnya. Dari situ hatinya terketuk untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Terkait apresiasi masyarakat Samarinda terhadap komunitasnya, Santoso mengaku sangat mengapresiasi. Kepada media ini, dia mengatakan bila warga Samarinda merupakan warga yang keren. Karena telah ikut membantunya dalam mengumpulkan dana untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.

Namun, pria yang juga pegawai Rumah Zakat ini tak mengelak jika hujatan kerap datang menghampiri. Baik kepada dirinya maupun komunitas tempatnya bernaung. Banyak orang yang meragukan niatnya bersama teman-teman Kombes lain yang ikhlas membantu sesama. Kebanyakan dari mereka berasumsi jika dana tersebut malah masuk ke kantong pribadi anggota.

Namun mendapati anggapan negative itu, sang Paman Doblang tak pernah gentar. Anggapan seperti itu menurutnya wajar. Yang terpenting, selama untuk kebaikan, dia akan berbuat saja tanpa memikirkan hujatan maupun cemoohan orang lain. Inilah pesan penting yang selalu dikatakan Santoso.

Bersama anggota komunitas lainnya, Santoso mengaku sudah cukup bahagia dapat mengulurkan tangan membantu orang-orang yang luput dari perhatian pemerintah. Walaupun dia tidak dapat memilah mana yang menjadi kebahagiaan maupun kesedihan itu sendiri. Karena keduanya datang di saat yang bersamaan, ketika ia melihat orang-orang yang sakit dan perlu uluran tangan.

Hingga kini sudah ada sembilan orang yang dibantu Kombes secara rutin per bulannya. Mereka yang dibantu meliputi pasien kanker darah, kelainan tulang belakang, hidrosefalus, dan penyakit lainnya.

Dengan kucuran dana Rp 500 ribu per bulan untuk setiap penerima bantuan, Santoso berujar, setidaknya selama sebulan dia harus mendapatkan uang sebesar Rp 5 hingga Rp 6 juta. Semua didapatkannya dari hasil mengamen. “Ya, 90 persen dana yang didapatkan Kombes merupakan hasil mengamen,” beber ayah dua anak ini.

Terlepas dari bagaimana ia mendapatkan uang tersebut, banyak cerita lucu dan sedih yang telah dilalui komunitas ini. Jumlah terkecil yang didapatkannya dalam mengamen yaitu Rp 12 ribu, hingga bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 2 juta rupiah hanya dalam waktu 1 jam.

“Pernah sekali karena hujan, kami hanya mendapatkan uang Rp 12 ribu rupiah. Namun setelah itu ternyata ada yang memberi uang cukup banyak,” kisah Santoso.

Selain mengamen di pinggir jalan, penggemar Iwan Fals ini juga kerap diundang mengisi berbagai acara di Samarinda. Hebatnya, dalam setiap penampilannya itu, Santoso tidak menuntut bayaran. Kata dia, diizinkan menggalang dana saja sudah lebih dari cukup untuknya.

Santoso pun turut memanfaatkan teknologi informasi dalam menggalang dana. Yaitu dengan mengunggah informasi penggalangan dana ke media sosial dengan nama Paman Doblang. Dari posting-an tersebut, bantuan turut berdatangan dari berbagai kalangan.

“Biasanya mereka transfer atau datang ke rumah member uang. Alhamdulillah ada saja yang membantu. Masyarakat Samarinda memang keren-keren,” pungkasnya. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button