Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]

Connect with us
Bermita Bersama Kami

Samarinda

Jaang Ingin Kota Tepian Bebas Anjal  Masyarakat Diimbau Tak Beri Uang pada Gepeng

Published

on

Dibaca normal 3 menit

SAMARINDA – Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menjadikan Kota Tepian sebagai kota yang bebas dari anak jalanan (anjal), gelandangan dan pengemis (gepeng) sepertinya benar-benar serius. Kamis (16/8) kemarin, Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang bahkan telah mendeklarasikan kota yang ia pimpin sebagai kota yang bebas dari anjal dan gepeng.

Dalam deklarasi yang berlangsung di di halaman parkir Kompleks Lembuswana itu, Jaang mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak lagi memberikan uang kepada anjal dan gepeng. Menurut dia, keterlibatan masyarakat akan menjadi kunci agar masalah tersebut bisa segera diselesaikan di ibu kota Kaltim.

“Kalau ingin memberikan bantuan tidak masalah, tidak ada yang melarang. Namun semua ada tempatnya, bisa langsung datang ke panti asuhan maupun ke pesantren. Daripada memberi uang ke anjal dan gepeng,” tutur Jaang.

Politisi Demokrat ini menuturkan, anjal dan gepeng kebanyakan berasal dari luar kota dan sudah sering ditertibkan serta dijatuhi sanksi. Namun nyatanya sanksi itu tidak memberi efek jera. Bahkan walaupun telah dipulangkan para anjal dan gepeng kerap kembali lagi ke Samarinda.

“Jangan membuat mereka (anjal-gepeng, Red.) berpikiran mengemis di Samarinda itu menguntungkan, dalam sehari bisa dapat dua ratus hingga tiga ratus ribu rupiah. Karena warga Samarinda ini jika memberi uang biasanya dengan pecahan besar. Jadi walaupun sudah dipulangkan mereka kembali lagi,” tutur  dia.

Untuk mempertegas peraturan daerah (perda) terkait itu, Jaang pun sudah menginstruksikan kepada lurah, camat, RT, serta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar turut serta mendukung program Samarinda bebas anjal dan gepeng. Selain itu, para stakeholder terkait diminta sigap melaporkan setiap masyarakat yang mencurigakan di lingkungannya.

“Masa iya seorang RT tidak mengetahui jika ada orang dari luar daerah yang tinggal di kawasannya dengan jumlah sepuluh hingga dua puluh orang. Laporkan ke lurahnya agar cepat ditindaklanjuti instansi terkait,” serunya.

Sebelumnya1 dari 3 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca