Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Lift Gus Dur untuk Saya

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Oleh: Dahlan Iskan

Saya diancam. Di Los Angeles. ”Kalau tetap tidur di hotel putus silaturahmi kita.”

Saya pun tidur di rumahnya. Di kawasan Arcadia. Rumah tujuh kamar itu. Di atas tanah 1.800m2 itu.

Ia memang sudah ke rumah saya. Yang di Jakarta. Yang di Surabaya. Ia ingin saya berlaku adil padanya.

Pemilik rumah di Los Angeles ini adalah juga pemilik majalah: “Media Indonesia”. Berbahasa Indonesia. Terbit dua kali sebulan. Beredar di seluruh Amerika. Untuk masyarakat kita. Apa pun sukunya.

Saya pernah menemukan majalah ini di New York. Di restoran Padang. Saat dulu makan di sana. Bersama imam masjid New York: Ustadz Shamsi Ali. Dan tamunya: Ustadz Yusuf Mansyur al-Kelana.

Nama sahabat saya ini: Ibrahim Irawan. Dokter gigi. Lulusan Trisakti, Jakarta. Tahun 1980.

Istrinya juga dokter gigi. Satu kelas. Saat kuliah dulu.

Anak lakinya hampir lulus dokter gigi: Bryan Irawan. Di kampus papan atas Amerika: Stamford University. Bryan memang tinggal pilih. Enam universitas terkemuka menawarinya. Saat ia masih kelas dua SMA. Di Arcadia. Los Angeles Timur sana.

Berada di rumah Pak Irawan ini juga serasa di kebun fauna. Burung merak terlihat ke sini dan ke sana. Berkeliaran di mana-mana. Di pekarangan-pekarangan siapa saja. Di perumahan yang serba tanpa pagar ini.

Kadang saya harus mengerem mobil. Burung merak itu  lagi menyeberang. Bersama tiga anaknya. Yang masih “piyik-piyik” besarnya.

”Dilarang memberi makan burung merak.”

Begitu pengumuman di pojok perumahan itu. Dekat botanic garden itu.

Masyarakat Amerika memang taat aturan. Termasuk yang asalnya Indonesia. Burung merak itu tetap aman. Sebagai burung liar. Tanpa tergantung makanan dari manusia. Juga tidak perlu sakit ususnya. Semua makanan cari sendiri. Dari alamnya sendiri. Yang terpelihara. Semua jenis pohonnya. Di Arcadia.

Sebelumnya1 dari 3 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments