Bontang

Rumah yang Terbakar, Masuk Pembebasan Lahan

BONTANG – Tiga rumah atau bangunan di Loktuan yang terbakar Senin (28/8) lalu merupakan bangunan yang hendak dibebaskan oleh Pemkot Bontang. Meski demikian, Pemkot Bontang tetap merasa prihatin dengan musibah yang menimpa keluarga korban.

Wakil Wali Kota Bontang Basri Rase meminta keluarga korban bersabar, karena musibah kebakaran bukan merupakan keinginan. “Ke depan pemerintah akan mencoba membantu sesuai kemampuan anggaran,” kata Basri saat ditemui belum lama ini.

Terkait persoalan pembebasan 19 rumah di sekitar Pelabuhan Loktuan, Basri mengatakan pihaknya sedang mengkaji dan perlu hati-hati untuk melakukan pembebasan lahan. Meskipun dalam aturan, disebutkan Basri sudah jelas bahwa permukiman di atas laut tidak bisa dilakukan kepemilikan lahan. Namun karena sudah lama, makanya diperintahkan Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang untuk pendampingan dari Tim Pengawal, Pengaman Pemerintah, dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejari Bontang. “Kami dengan Kejari Bontang sudah ada MoU dalam rangka pertimbangan hukum, itulah nanti bersama-sama dengan Dishub untuk melakukan pendampingan untuk mencari solusi agar bisa segera dibebaskan untuk pengembangan fasilitas pelabuhan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kadishub Bontang, Sukardi mengatakan saat ini tahapan pembebasan lahan masih menunggu hasil appraisal. Sukardi mengharapkan dapat secepatnya mendapatkan hasil appraisal, karena sebagai patokan biaya pembebasan lahan. Meskipun, uang tersebut sudah dititipkan di Dishub Bontang. “Kami sudah anggarkan sebesar Rp 2,3 miliar, dengan pembebasan bangunan 19 rumah,” terang dia.

Hanya saja setiap bangunan lanjut Sukardi, akan berbeda nilai bangunannya. Disesuaikan dengan luas bangunan yang dimiliki oleh masyarakat. Nantinya juga, pihaknya akan menyampaikan kepada pemilik asli bangunan. Mengingat biaya pembebasan lahan harus benar-benar diterima oleh pemilik sah. “Yang disaksikan oleh aparat keamanan,” ujarnya.

Namun disayangkan, target pembebasan lahan yang digadang-gadang bisa selesai tahun 2018, terpaksa molor hingga tahun 2019. Hal tersebut mengingat tahun 2018 hanya tersisa sekira empat bulan lagi. “Saya pastikan tahun 2019 rampung semua, mulai dari pembebasan lahan, hingga pekerjaan fisiknya diselesaikan di tahun 2019 juga,” ungkapnya. (mga)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button