oleh

Iuran Sampah Masih Menjadi Polemik Warga Penarikan RT untuk Operasional Pengangkut Dalam Gang

SANGATTA – Penarikkan iuran sampah setiap bulannya, nampaknya masih menjadi polemik di antara warganya. Terlebih saat masyarakat harus bayar uang sampah di PDAM dan tarikan RT.

Seorang warga Sangatta Selatan, Jusmiati merasa bingung perihal iuran sampah yang harus dibayar di PDAM, ia merasa hal itu tidak saling sinkron. Terlebih dirinya harus pula membayar tarikkan sampah di kawasan rumahnya.

“Loh dua kali saya bayar, pernah sih dijelasin sama orang PDAM, tapi kenapa bayar lagi di RT,” ujarnya saat diwawancarai.

Menurut Ketua RT 09 Jalan Antasari, Sirajang, menarik iuran ke masyarakat dinilai warga bukan hal baru. Karena selama ini pengurus RT memang kerap menagih uang ke warga untuk membayar petugas kebersihan yang masuk gang.

Di Sangatta Kutim, pengurus RT boleh menagih iuran ke masyarakat untuk pengelolaan lingkungan. Syaratnya iuran tersebut harus dikelola transparan dan benar untuk lingkungan.

“Truk pengangkut sampah memang ada dari pemerintah, hanya saja mereka tidak masuk ke dalam gang. Uang iuran inilah yang kami bayar untuk tukang yang masuk dalam,” ungkapnya.

Bahkan menurutnya bupati tidak mempermasalahkan itu, selagi dari dan untuk kebaikan masyarakat umum. Dia menceritakan, penarikan iuran sudah berlangsung selama 11 tahun lamanya, bahkan hal tersebut tidak sia-sia. Pasalnya, kawasan lingkungannya meraih gelar kampung percontohan.

“Sebenarnya pengelolaan itu tergantung RT nya masing-masing, bagaimana cara mereka mengimplementasikannya, mengelola anggaran yang ada untuk kepentingan wilayah,” pungkasnya.

Sekira 200 Kepala Keluarga (KK) di RT tersebut rutin menyetor uang sebanyak Rp 20 ribu per bulan, sebagai uang kebersihan. Tetapi, dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, ia kerap bertemu dengan warga yang enggan membayar. Terlebih yang merasa sudah membayar di PDAM.

Bagikan berita ini!
  • 2
    Shares