Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Sangatta

Pernah Alami Hal Mistis, Rangkap Profesi Buruh Bangunan Kisah Wayan, Pengrajin Patung yang Masih Bertahan

Published

on

Dibaca normal 2 menit

Nasib pengrajin patung berbahan baku semen dan pasir, di Bumi Etam, Desa Sangatta Utara kini kian merosot. Kerajinan yang pernah berjaya pada masa 1980an ini semakin sepi peminat. Kondisi itu diperparah dengan perkembangan zaman.

—–LELA RATU SIMI, Sangatta——

Salah seorang pengrajin patung, Wayan (44) mengatakan, saat ini peminat hasil kerajinannya kian menurun. Pria kelahiran Bali itu, mengaku sangat jarang menerima pesanan. Sehingga dirinya harus merangkap profesi menjadi buruh bangunan.

“Saya bikin patung sudah hobi dari 25 tahun yang lalu. Tapi jarang ada yang beli, paling kalau ada pesanan baru buat,” ungkapnya saat disambangi belum lama ini.

Dia mengawali karirnya sejak menetap di Bali, sesaat akan mengabdikan diri di Kutim. Pengrajin ukir ini mengaku kerap kesulitan dalam pembuatan, yakni anatomi yang ditampilkan teramat menyulitkan, ukiran yang harus sesuai dengan sejarahnya hingga sulit untuk memasarkannya.

“Sebenarnya susah-susah gampang. Tapi dengan belajar, saya bisa buat patung apapun. Yang susah itu menjualnya,” tuturnya.

Mendasar dari hobi itu, sekira Rp 2 juta merupakan modal yang dikeluarkan untuk pembuatan satu patung berukuran sekira 2,5 meter. Sehingga kadang, dirinya menjual dengan kisaran Rp 3 juta. “Kalau dicat warna ya bayar lagi. Sekarang saja minim peminat, kalau naikan harga, saya rasa tidak bakal laku,” jelasnya.

Ia menceritakan sejumlah pengalaman yang telah dilalui. Saat Wayan akan membuat salah satu patung di Kecamatan Long Mesangat, ia tertimpa sakit yang tak diketahui asal-usulnya. Menurut anggapan orang banyak, dirinya telah pembuat patung yang menyeramkan, sehingga mengalami kejadian mistis.

“Dokter bilang saya sehat saja, padahal sakit. Tapi tidak tahu kenapa. Bilang orang pintar, saya salah mengukir rupa patung, sehingga dikenai penyakit. Lalu saya diajak meminta maaf di kawasan itu, baru bisa sembuh,” paparnya.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments