oleh

Pantang Mengemis, Biaya Hidup Bergantung Lidi Kisah Saenab, Perajin Anyaman Lidi yang Masih Bertahan

Saenab, seorang wanita kelahiran Mamuju, 02 Mei 1940 silam. Mulai menapakkan kakinya di Kutim seorang diri sejak 20 tahun lalu. Dia menghidupi dirinya dengan keahliannya menganyam lidi dan disulapnya menjadi piring ataupun sapu.

——LELA RATU SIMI, Sangatta—–

Nenek yang menetap di Kampung Baru RT 18 Desa Sangkima, Sangatta Selatan ini enggan menggantungkan harapan pada orang lain. Baginya, selama ia mampu berusaha dan masih ada yang membeli produk buatannya, maka saat itu pula ia yakin nafasnya masih berlanjut.

“Kalau tidak ada yang panjat pohon kelapa, saya beli saja sama orang kebun, Rp. 2000 per pelepah pohon yang masih berdaun, lalu saya bersihkan,” pungkasnya.

Dia mengaku kerap kesulitan menjajakan dagangannya, salah satu faktor karena tidak memiliki kendaraan pribadi, terlebih jarak yang terbilang cukup jauh dari pemukiman yang banyak penduduknya.

“Saya tinggal di lingkungan yang masih sedikit orangnya, jauh dari Sangkima, kalau mau jualan di sana harus jalan kaki sampai tujuh kilo. Kalau ke Sangatta lebih 20 km,” ungkapnya saat disambangi di kediamannya.

Perempuan berusia 78 tahun itu merasa fisiknya semakin melemah. Ia tidak memiliki kekuatan lebih seperti dahulu saat menganyam piring. Baginya, dahulu Saenab  merasa mampu membuat satu lusin setiap harinya.

“Sekarang sudah tidak sekuat dulu, paling hanya lima perhari. Karena pegal punggung dan pinggang,” paparnya.

Tidak hanya piring, diapun mengikat sejumlah lidi dan dijajakannya hanya dengan harga Rp 5000. Pasalnya jika hanya mengandalkan anyaman piring, maka kemungkinan lakunya sangat tipis.

“Kalau sapu ada saja kadang sehari. Karena kalau piring paling laku hanya lebaran, kalau hari biasa sepi. Yang jelas jualan saya kadang laku kadang tidak. Saya jajakan dengan menyusuri pantai teluk lombok,” jelasnya.

Bagikan berita ini!
  • 37
    Shares