Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Terus ke Timur Mengejar Matahari

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Oleh: Dahlan Iskan

Ayolah kita mulai. Kata saya. Pada empat orang yang ada di masjid itu. Saya bisa khotbah. Kata saya lagi. Kalau tidak ada yang khotbah.

Jam sudah menunjukkan angka 14.39. Sudah hampir ashar. Jumatan belum dimulai.
Tidak ada repons dari empat orang itu. Semuanya berwajah Arab. Mungkin tidak paham. Dengan bahasa Arabnya orang Jawa seperti saya.

Lalu saya ulangi lagi. Dengan lidah yang lebih saya Arab-arabkan. Kali ini ada yang menjawab. Yang bersandar ke dinding samping itu. Ia lantas merogoh saku celana. Ambil HP. Bicara-bicara.

Yang diajak bicara ternyata nongol di pintu ruang salat. Sambil menutup HPnya. Memasukkannya lagi ke saku celana.

Dari pintu itu ia langsung melangkah ke arah kursi depan. Duduk di situ. Sambil mengusap rambutnya. Dengan satu tangannya. Lalu mengusapkan tangannya itu ke celana jeannya.

Satu-satunya jemaah tua di situ langsung berdiri: azan. Ialah satu-satunya yang tidak bersandar ke dinding. Orang pertama yang tiba di masjid Hays, Kansas, Jumat lalu.

Saya kenal wajahnya. Ia imam. Tiga bulan lalu. Saat saya ke Hays ini. Ia yang juga khotbah saat itu. Dengan celana jeannya. Dengan topi pet yang ia balik di kepalanya.

Selesai azan, pemuda yang duduk di kursi itu merogoh saku celana. Ambil HP. Membukanya. Lalu berdiri. Membaca khotbah dari layar HP. Semua dalam bahasa Arab. Saat khotbah dibaca beberapa lagi tiba. Total menjadi 9 orang. Yang Jumatan hari itu.

Khotbahnya pendek. Hanya 10 menit. Yang mendengarkan juga santai: duduk bersandar ke dinding. Ketika doa di akhir khotbah tidak ada yang mengangkat tangan.

Inilah khotbah yang sangat pendek. Meski masih kalah pendek dengan di masjid Kebon Jeruk Jakarta. Di pusatnya Jamaah Tabligh itu. Di jalan Hayam Wuruk itu. Saya suka Jumatan di situ. Khotbahnya hanya lima menit. Dengan bahasa Arab semua.

Sebelumnya1 dari 3 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments