oleh

Semarak Tahun Baru Muharam Kian Luntur

SANGATTA – Tahun Baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriah yang jatuh Selasa 11 September 2018 tampaknya menjadi perayaan khusus bagi sejumlah warga muslim di Kutai Timur (Kutim). Di beberapa kecamatan di Kutim, seperti Sangatta, masyarakat ramai-ramai memperingati tahun baru dalam kalender Islam tersebut dengan berbagai kegiatan. Mulai dari mengaji bersama hingga pawai obor.

Namun di sisi lain, peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam tidak terlalu semarak seperti penyambutan tahun baru masehi. Hal itu diungkapkan Rizky Putri Agrifani (24). Perempuan yang bermukim di Jalan Bumi Ayu, Sangatta Utara itu mengatakan, semarak tahun baru Islam semakin menurun setiap tahunnya.

“Beda dengan tahun baruan Desember-Januari, pasti ramai. Bahkan meningkat setiap tahun,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (11/9).

Namun menurutnya, banyak persepsi masyarakat yang dianggap salah. Pasalnya, perayaan tahun baru kerap salah kaprah. “Ya sebenarnya kalau menurut saya (perayaan) tahun baru itu tidak benar, apalagi perayaan yang berlebihan. Karena tidak memanfaatkan keadaan dengan hal baik,” ungkap Rizky.

Dia menyampaikan, tahun baru Islam itu seharusnya diisi dengan kegiatan positif, tidak berkeliaran di jalan. Terlebih melakukan hal negatif. “Seharusnya kita mengadakan doa bersama, pengajian, karena itu momen untuk bersyukur atas nikmat yang sudah Allah berikan. Berharap tahun depan bisa lebih baik lagi,” paparnya.

Pandangan berbeda diungkapkan warga Kutim lainnya, Aldian (26). Menurut dia, tahun baru masehi lebih ramai karena dirayakan oleh masyarakat umum. Sehingga tahun baru Islam terlihat sepi. Tetapi ia tetap menyambut perayaan yang ada, seperti kegiatan pawai obor.

“Sebenarnya tidak sepi, hanya karena yang merayakan umat muslim saja jadi terlihat tidak seramai tahun baru biasa,” kata Aldian.

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share