Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]

Connect with us
Bermita Bersama Kami

Samarinda

Biaya Pemeliharaan Jembatan Minim  Tahun Ini Hanya Dianggarkan Rp 4 Miliar 

Published

on

Dibaca normal 2 menit

SAMARINDA – Minimnya biaya menjadi salah satu alasan tidak terpeliharanya sejumlah jembatan di Kaltim. Tak heran, terdapat jembatan yang tidak lagi memiliki lampu penerang. Sehingga digunakan untuk tempat maksiat.

Belum lama ini, Metro Samarinda pernah mengangkat berita keluhan warga di Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda. Sudah beberapa bulan ini, pengguna jalan mengaku di malam hari melintasi Jembatan Mahakam Ulu dalam keadaan gelap.

Namun tidak hanya kasus jembatan tanpa lampu penerang yang kerap dikeluhkan masyarakat di Benua Etam. Acap kali jembatan ditabrak tongkang pengangkut batu bara. Sehingga menimbulkan kerusakan yang dapat berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahaan Rakyat (PUPR) Kaltim, Muhammad Taufik Fauzi mengungkapkan, pada tahun 2018 terdapat anggaran yang digelontorkan untuk pemeliharaan jembatan.

“Anggarannya itu ada di UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah, Red.). Tetapi kecil. Berkisar Rp 4 miliar. Itu untuk pemeliharaan seluruh jembatan yang menjadi tanggung jawabnya provinsi,” bebernya, Kamis (13/9) lalu.

Seperti diketahui, terdapat empat jembatan yang membentang di Sungai Mahakam. Antara lain Jembatan Mahakam Ulu, Jembatan Mahakam, Jembatan Mahkota II, dan Jembatan Martadipura. Semua jembatan tersebut berada dalam pemeliharaan pemerintah pusat, pemerintah provinsi (pemprov), pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota.

Jembatan Mahakam yang terletak di Samarinda yang acap kali ditabrak ponton batu bara. Laporan terbaru membuktikan, bahwa sebagian besar bagian fender atau pelindung utama jembatan yang selesai dibangun pada 1986 itu telah rusak.

Kondisi itu kian pelik, perawatan Jembatan Mahakam tahun ini tidak dianggarkan. Khanif Ashar, Kepala Seksi Preservasi dan Peralatan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XII mengaku, anggaran hanya cukup untuk biaya pembersihan.

“Kalau ada sampah-sampah, ya dibersihkan. Sedangkan yang sifatnya perlu perbaikan struktural belum ada,” ujarnya. Pada dasarnya, lanjut Khanif, pemeliharaan Jembatan Mahakam terbilang rutin. Namun, bergantung kondisi jembatan.

Dia juga belum bisa memastikan kondisi keamanan Jembatan Mahakam setelah kerap ditabrak. Namun, dia menyebut, secara visual, jembatan yang diresmikan era Presiden Soeharto itu masih aman dilintasi. Dengan catatan, kendaraan truk bermuatan tak lebih dari 8 ton. “Tapi, sebaiknya, truk-truk tidak lagi melintas dan jalurnya dialihkan ke Jembatan Mahulu,” saran dia.

Meski pemerintah tak menganggarkan biaya perawatan jembatan, perusahaan yang tongkangnya menabrak jembatan wajib bertanggung jawab. “Perusahaan harus memperbaiki fender yang rusak dan membangun fender baru. Sedangkan kami memperbaiki pilar yang retak,” tegasnya.

Khanif menjelaskan, maksimal usia jembatan hingga 50 tahun. Namun, itu tentunya jika dirawat dengan baik. “Kalau tidak, bisa saja lebih cepat (rusak),” ucapnya.

Rentang waktu 50 tahun itu bisa saja tak sampai karena jembatan kerap ditabrak tongkang bermuatan yang melewati bawah jembatan. (*/um)