oleh

Proyek Lama “Bernyanyi” Kembali

Catatan Lukman M, Redaktur Bontang Post

SETELAH sempat “sunyi”, proyek pipanisasi gas Kalimantan-Jawa (Kalija) “bernyanyi” lagi. Proyek yang beberapa tahun lalu mendapat penolakan dari berbagai pihak di Kaltim, khususnya Bontang tersebut kembali muncul ke permukaan untuk direalisasikan. Tentu layaknya yang terjadi kala itu, penolakan kembali muncul atas kabar pipanisasi ini.

Bontang menjadi yang paling keras menolak. Karena apabila proyek ini dilanjutkan, dikhawatirkan pasokan gas yang selama ini menjadi denyut nadi industri Kota Taman akan habis dengan lebih cepat. Ancaman menjadi kota mati pun membayangi Bontang bila gas alam “punah” mendahului dari waktu yang diperkirakan. Sebagaimana diungkapkan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni.

Sejak beberapa tahun terakhir, produksi gas di Kaltim diklaim kian menipis. Di Bontang saja yang awalnya ada delapan kilang, kini di 2018 tinggal tersisa tiga kilang. Praktis dalam hal produksi juga sudah mengalami penurunan. Sehingga bila gas yang tersisa tersebut dipaksakan dibawa ke Jawa, dikhawatirkan tidak ada lagi kilang yang beroperasi.

Imbasnya ketika ekonomi semakin menurun lantaran kondisi produksi gas alam yang selama ini menjadi tumpuan, masyarakat akan pikir-pikir untuk tinggal di Bontang. Meninggalkan Bontang lantas menjadi opsi ketika Bontang tak mampu memberikan alternatif pengganti industri gas yang selama ini menjadi magnet utamanya. Bila ini terjadi, Bontang menjadi kota mati layaknya Lhoksumawe.

Dengan kondisi yang masih ketergantungan ini, penolakan memang menjadi hal yang wajar. Dengan harapan kekhawatiran matinya Kota Bontang dapat dihindarkan. Lantas belakangan, dari Badan Pengaturan Hilir (BPH) Migas menyatakan skema pipanisasi ini akan diutamakan untuk penyaluran gas di Kaltim. Mereka mengklaim bahwa pipanisasi yang menggandeng PT Bakrie and Brothers ini tidak akan diekspor ke daerah lain.

Bagikan berita ini!
  • 2
    Shares