Opini

HAMIL DULUAN, NIKAH KEMUDIAN? OOH NO!

Oleh : Muthi’ Masfu’ah / Yattini *)

Owner Rumah Kreatif Salsabila, Koordinator Literasi DPW Kaltim dan Divisi Pengambangan Wilayah Literasi DPP.

Miris! Ketika Membaca Bontang Post di halaman utama Minggu 16 September lalu. “Hamil Duluan, Nikah Kemudian. Angka Pernikahan Dini Tinggi, Banyak Yang Putus Sekolah”. Dalam berita utama tersebut menyebutkan bahwa pernikahan dini marak terjadi di Bontang. Dalam waktu delapan bulan, tercatat sedikitnya 17 pasangan muda mudi melepas masa lajang. 60 persen dari jumlah tersebut terpaksa menikah karena hamil duluan. Yang memprihatinkan, sebagian besar pelaku pernikahan dini masih berusia belasan tahun. Mereka juga berstatus masih sebagai pelajar. Namun pihak keluarga memang tidak memiliki pilihan lain begitu tahu terjadi peristiwa kehamilan.

Pembaca, kita pahami masa remaja bagi sebagian besar orang merupakan masa-masa transisi, dari anak-anak menjadi dewasa. Pada masa ini, seringkali remaja mengalami masa “pencarian identitas”. Berbagai usaha dilakukan oleh para remaja untuk menunjukkan eksistensi diri mereka. Pergaulan menjadi kunci sejauh mana mereka dapat menunjukkan eksistensi dirinya. Pergaulan yang bebas terkadang membuat para remaja tidak dapat mengontrol dirinya, sehingga mereka terjerumus terlalu jauh. Banyak contoh, misalnya : free sex, pemakaian narkoba, drag race, dan lain sebagainya.

Fenomena ini adalah salah satu dampak negatif dari globalisasi yang ditelan mentah-mentah oleh remaja Indonesia.  Salah satu yang sangat berbahaya yang akan saya kupas adalah seks bebas yang perlu dicegah. Mengapa?  Yang pertama adalah ketidaksesuaian hal ini dengan budaya ketimuran dan nilai-nilai bangsa Indonesia serta bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Alasan lain adalah seks bebas “sex before marriage” sangat berpotensi memicu kehamilan di luar nikah, penyakit seksual menular, aborsi, serta berbagai dampak negatif lainnya. Atau secara gamblang, bahaya seks bebas di kalangan remaja antara lain yang berhasil saya himpun dari berbagai sumber adalah:

Pertama, bila dilakukan dengan seringnya berbeda pasangan maka beberapa penyakit yang siap mendatangi, seperti herpes, HIV Aids dan penyakit lainnya. Penyakit ini tentu sudah diketahui sangat membahayakan dan sampai sekarang masih belum ada obatnya.

Kedua, hamil di luar pernikahan akan menimbulkan permasalahan baru, apabila seorang remaja masih  kuliah atau sekolah tentu saja orang tua akan sangat kesal dan malu. Akibatnya remaja pun takut untuk jujur kepada orang tua dan pasangan, akhirnya sang remaja memutuskan untuk melakukan dosa baru yaitu aborsi ataupun bunuh diri, yang tentunya akan merugikan diri sendiri.

Ketiga, masalah keuangan, apalagi seorang anak remaja menikah di usia muda, maka permasalahan yang belum siap dihadapi akan datang, seperti masalah keuangan, masalah kebiasaan, masalah anak. Akibatnya anak-anak yang lahir tidak terprogram dengan baik, kurang perhatian dan pendidikannya. Nama baik keluarga akan tercoreng. Keluarga akan menghadapi masalah yang dibuat apabila seorang remaja mendapatkan efek buruk dari seks bebas ini.

Keempat, dapat berakibat gangguan mental atau gila bagi si remaja yang hamil di luar nikah, jika seorang remaja  hamil di luar nikah tersebut diperlakukan tidak baik oleh pasangannya yakni tidak mau bertanggung jawab. Sehingga yang akan dilakukan adalah banyak pikiran buruk yang akan mengganggu, seperti ingin bunuh diri, berpikir tidak rasional.

Sebenarnya ada banyak hal yang menyebabkan para remaja ini terjerumus dalam pergaulan bebas. Saya menekankan pentingnya 3 faktor dari berbagai sumber yang saya dapatkan yakni :

Pertama, Faktor Lingkungan Keluarga, salah satunya perhatian dari orang tua. Perceraian atau ketidakharmonisan orang tua seringkali menjadi pemicu utama para remaja kemudian mencari pelarian atas permasalahannya, biasanya mereka mengkonsumsi narkoba maupun minuman keras, untuk melupakan sesaat permasalahan mereka. Selain itu, kesibukan orang tua juga menyebabkan orang tua tidak lagi memiliki waktu untuk sekedar mengobrol dengan anak-anak mereka, sehingga anak-anak mereka mencari cara untuk menarik perhatian mereka.

Keluarga, dalam hal ini orang tua, merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa. Keluarga memiliki tanggung jawab yang besar dalam mencetak pemimpin bangsa. Keluarga adalah institusi pertama yang meletakkan informasi pondasi kepribadian  yang kuat. Dekatkan anak-anak dengan agama agar ketika mereka remaja telah memiliki filter yang baik dalam pergaulan yang makin bebas seperti sekarang.

Kedua, Faktor Lingkungan Sekolah. Guru dan pengelola pendidikan juga berperan penting dalam pembentukan kepribadian siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi semata, akan tetapi lebih jauh lagi berperan sebagai tauladan (uswah) yang baik. Tanpa teladan dari guru sulit diharapkan tertanamnya kepribadian Islam pada anak didik. Budaya sekolah merupakan proses yang tidak dapat diabaikan begitu saja dalam proses pendidikan. Contohnya: mengingatkan teman (sesama siswa) yang berbuat tidak baik, dengan cara yang ma’ruf. Atau pihak sekolah memberikan sanksi yang tegas bagi mereka yang tidak menutup aurat (menonjolkan aurat / berpakaian tidak sopan), bergaul melampaui batas dan lain sebagainya. Mengaktifkan kembali Rohis (Kerohanian Islam), kajian keIslaman secara rutin perpekan dengan materi-materi yang tepat untuk remaja, dapat membantu menanamkan pemahaman yang baik tentang pergaulan.

Ketiga, Faktor Masyarakat sebagai “Polisi Sosial” bukan masyarakat yang cuek. Kontrol dari masyarakat juga diperlukan guna mengatasi bahaya yang lebih besar lagi, karena lingkungan masyarakat merupakan tempat remaja tersebut hidup. Masyarakat merupakan lingkup pendidikan nonformal, di mana remaja belajar bersosialisasi dan menerapkan apa yang ia dapatkan dari keluarga dan sekolah. Selain itu, kontrol dari masyarakat juga diperlukan untuk membentuk perilaku remaja itu. Masyarakatlah yang mengingatkan para remaja yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, misalnya drag race liar, remaja berlainan jenis yang berdua-duaan, dan lain sebagainya. Masyarakat sebagai “polisi sosial” harus mampu mengontrol tingkah laku para remaja. Masyarakat tidak boleh bertindak masa bodoh, acuh tak acuh melihat pergaulan para remaja yang sudah melanggar norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.

Keempat, Faktor Peran Media yakni tayangan TV atau mudahnya mengakses internet. Hal ini sudah tidak menjadi hal yang menghebohkan lagi. Sekarang ini banyak sekali acara tv seperti sinetron, infotainment, film, dan lain-lain. Hal tersebut tentu saja membuat para remaja masa kini mempunyai keinginan untuk mencoba dengan seperti apa yang mereka lihat. Selain itu mudahnya mengakses internet pada saat ini juga sangat mempengaruhi. Banyak sekali video-video porno yang beredar di internet, dan itu akan dengan mudah diakses oleh siapa saja bahkan oleh para remaja yang bisa dianggap kurang umur. Akibat terlalu banyak dicekokin dengan hal-hal seperti itu, lama-kelamaan para remaja pun tertarik dan ingin mencoba hal-hal dengan seperti yang mereka tonton.

Kelima, Faktor Ketegasan Pemerintah. Bagaimanapun sangat diperlukan  adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas. Dengan memberikan hukuman yang sesuai bagi pelaku seks bebas, diharapkan mereka tidak mengulangi perbuatan tersebut, apalagi untuk menyelamatkan generasi penerus kita. Diadakan razia pelajar keluyuran di jam sekolah, jam malam yang perlu pembatasan, ini salah satu contoh yang mungkin bisa diterapkan secara serius oleh Pemerintah kita. Apalagi dengan motto kota Bontang salah satunya yang Agamis, semoga ada langkah yang serius. Semoga. (***)

*) Penulis pernah meraih Kaltim Edukasi Award 2010, Juara 2 dan 3 dalam Lomba Penulisan Buku juga Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional, serta berbagai penghargaan tingkat nasional lainnya, telah menulis lebih dari 20 buku dan terus akan menulis.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button