Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Advertorial

Neni: Pelayanan untuk ABK Jangan Dibedakan Apresiasi Pelatihan Pendampingan Anak Disabilitas Korban Kekerasan

Published

on

Dibaca normal 1 menit

BONTANG – Pelatihan Pendampinan Anak Disabilitas Korban Kekerasan tahun 2018 diapresiasi oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Dalam sambutan dan motivasinya di Ballroom Hotel Tiara Surya, Selasa (18/9) lalu, Neni menyebut pelatihan yang diikuti 40 peserta ini dapat menambah wawasan dan komitmen untuk memberikan pelayanan yang baik kepada anak berkebutuhan khusus (ABK).

“Anak berkebutuhan khusus harus mendapat perlakuan sama terhadap anak lainnya, jangan dibedakan,” tegas Neni di hadapan peserta yang terdiri dari perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Sekolah Luar Biasa (SLB) se- Bontang, penyandang disabilitas dan lembaga pencegahan, serta Penanganan Perempuan dan Anak yang Mengalami Trauma dan Tindak Kekerasan (Teripang Laut) di beberapa kelurahan.

Dia pun berpesan kepada peserta untuk memerhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang telah disampaikan oleh pemateri hingga selesai. Sehingga dapat diimplementasikan dalam lingkungan sehari-hari. Dalam pelatihan ini, Neni menyebut banyak hal yang akan didapatkan mulai dari bagaimana menghadapi anak disabilitas yang harus mendapatkan hak yang sama.

“Saya atas nama Pemkot Bontang berterima kasih kepada pemateri yang meluangkan waktu dalam memberikan wawasan terhadap peserta, dan peserta dapat menerapkan dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus dalam kehidupan sehari-hari,” terang Neni.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissos-P3M) Abdu Safa Muha mengatakan, kegiatan ini sebagai persiapan sumber daya manusia (SDM) dalam hal pendampingan kepada  anak disabilitas yang mengalami korban kekerasan. Kata dia, pelaksanaan ini dilaksanakan mulai Senin (17/9) sampai Rabu (19/9) lalu yang menghadirkan pemateri dari ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan psikolog klinis (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) P2TP2A Provinsi DKI Jakarta.

“Harapan kami pelatihan ini dapat berkelanjutan, dan peserta menjadi relawan atau pelopor sebelum diberikan ke P2TP2A. Minimal dalam lingkungannya sendiri dulu,” kata Safa.(*/one/zul)

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments