Feature

Sempat Terseret Tsunami, Lolos dari Maut Setelah Naik Gunung

Puluhan atlet airsoft gun yang diutus Kaltim dalam event nasional HUT Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) ikut merasakan ganasnya gempa dan tsunami. Aji Andri dan Ahmad Rendi Saputra, Rabu (2/10) kemarin, mengisahkan detik-detik peristiwa yang merenggut ribuan jiwa itu.

UFQIL MUBIN, Samarinda

ANDRI menjelaskan, pihaknya menginap di hotel yang jauh dari pinggir pantai. Puluhan atlet diutus Kaltim menginap di Hotel Gessos Asni. Ada pula yang menginap di hotel yang berdekatan dengan bibir pantai.

Sekira pukul 16.00 Wita diadakan technical meeting. Lokasinya di kampung nelayan yang tak jauh dari pinggir pantai.  Saat persiapan keberangkatan menuju lokasi pertemuan, satu jam sebelum itu, sempat terjadi gempa yang tidak terlalu besar. “Tetapi lumayan terasa sekali di hotel,” tuturnya.

Menjelang azan maghrib, terjadi gempa susulan frekuensi amplitudo 7,4. Para atlet baru saja selesai mengadakan pengarahan untuk pertandingan esok hari. Sebagian olahragawan itu masih ada di hotel. Ada pula yang menghabiskan waktu di bibir pantai.

“Saat gempa susulan, saya sedang duduk santai di dekat hotel. Beberapa detik setelah gempa, kondisi hotel ambruk. Saya berlari. Sementara yang lain masih ada di hotel,” ungkap Andri.

Seusai gempa, seluruh bangunan yang berdekatan dengan hotel telah ambruk dan rusak parah. Semua orang berlarian. Berhamburan keluar dari gedung-gedung, perumahan, dan swalayan.

Para atlet berinisiatif berkumpul di jalan raya. Setelah gempa berlalu, sebagian atlet melihat air laut surut. Sadar akan terjadi tsunami, mereka berlarian menuju bukit yang tidak jauh dari hotel yang dijadikan lokasi technical meeting.

“Kami berlari ke bukit bersama teman-teman yang lain. Walaupun ada teman saya yang lain tertinggal. Termasuk Rendi masih di pinggir pantai,” bebernya.

Pria kelahiran 7 Januari 1980 itu mengatakan, setelah berada di bukit, dia melihat air laut telah meluap dan menghantam seluruh bangunan di pinggir pantai. Tsunami tidak hanya sekali, tetapi disusul luapan lain yang jauh lebih besar. Sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat parah.

Di bukit itu, bersama ribuan orang lainnya, Andri dan teman-temannya berdiam hingga pukul 00.00 Wita. Gempa bumi masih terus berlangsung secara susul menyusul. Setidaknya ada puluhan kali gempa setelah guncangan besar terjadi.

“Setelah semuanya dicek, kami turun dari bukti dengan cara berjalan kaki ke penginapan. Dalam perjalanan itu, saya melihat semuanya sudah hancur. Jalan dan bangunan tidak lagi terlihat bentuk aslinya,” terang dia.

Pihaknya baru mendapatkan makanan pada Sabtu (29/9). Semalam suntuk setelah gempa, para atlet dan sebagian besar masyarakat Palu tidak mendapatkan asupan makanan. “Hari Sabtu saya sempat makan cemilan. Itu bantuan dari teman-teman yang lewat di penginapan,” katanya.

Ahmad Rendi Saputra menjelaskan, saat tsunami berlangsung, dirinya sedang bersantai di pinggir laut. Hantaman air sempat dirasakan pria kelahiran 10 Maret 1989 itu. Bahkan dia sempat tenggelam.

“Mungkin ada sekitar sepuluh detik terkena tsunami. Saya terkena serpihan-serpihan dan tembok. Banyak juga orang di samping saya yang meminta tolong. Tetapi saya tidak bisa menolong mereka,” bebernya.

Berhasil keluar dari ancaman tsunami yang memakan ribuan korban jiwa itu, Rendi berlari menuju hotel yang dijadikan tempat technical meeting. Lantaran di hotel tersebut tersimpan tasnya.

“Karena saya pikir tas ketinggalan di sana. Di tas ini ada KTP dan ponsel. Saya lewat di belakang. Karena di depan sudah hancur,” sebutnya.

Beberapa waktu kemudian, Rendi keluar dari hotel dan berkumpul bersama Andri beserta puluhan atlet lainnya. “Syukurlah dari Kaltim tidak ada yang jadi korban. Hanya atlet dari Bandung yang meninggal,” terangnya.

Para atlet yang mewakili Benua Etam itu baru dapat dievakuasi ke bandara pada Minggu (30/9) lalu. Dua hari berada di bandara, semua atlet diberangkatkan pada Selasa (2/10) lalu menggunakan pesawat hercules.

“Dua malam kami berada di bandara. Selasa pagi kami naik pesawat. Siang hari baru sampai di Balikpapan,” tutupnya. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button