Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Kolom Redaksi

Keadilan untuk Penyebar Hoaks

Published

on

Dibaca normal 6 menit

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post

HOAKS alias kabar bohong semakin merajalela. Dalam sebulan ini saja, sudah ada beberapa hoaks “skala nasional” yang penyebarannya begitu meresahkan dan menjadi perhatian publik. Mulai dari hoaks demonstrasi mahasiswa, hoaks kalimat tauhid dalam pengeroyokan suporter bola, hingga sederetan hoaks yang mengelilingi tragedi bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Seakan belum cukup diresahkan dengan rentetan hoaks tersebut, belakangan “booming” hoaks yang “berskala besar”, tentang pengeroyokan yang menimpa aktivis Ratna Sarumpaet. Dianggap berskala besar lantaran hoaks ini melibatkan sejumlah tokoh politik di kubu oposisi, sampai dengan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno. Langsung saja, berita hoaks Ratna Sarumpaet menjadi “bahan segar” yang “digoreng” media dan pihak petahana secara luas.

Tentu semakin maraknya penyebaran hoaks ini sangat disesalkan semua pihak. Apalagi kalau sampai kabar hoaks tersebut meresahkan masyarakat bahkan menimbulkan korban jiwa. Di satu sisi, beragam upaya untuk membendung penyebaran hoaks seakan tak bertaji. Karena faktanya, setiap hari hoaks-hoaks baru bermunculan yang dengan cepat tersebar layaknya sebuah virus. “Vektor” penyebaran hoaks ini juga semakin meluas, bukan lagi masyarakat awam, tapi juga tokoh-tokoh yang memiliki intelektual tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, upaya represif seakan masih jadi satu-satunya upaya nyata dalam mengakhiri hoaks. Yaitu dengan tindakan penangkapan yang dilakukan aparat berwenang, dalam hal ini kepolisian terhadap pihak-pihak yang dianggap membuat dan menyebarkan hoaks. Dan sebagaimana kehebatan aparat kita, banyak kasus hoaks yang dengan cepat ditangani, dengan para pelaku penyebar atau pembuat hoaks ini ditangkap dan dijerat hukum.

Namun sayang seribu sayang, penegakkan terhadap penyebaran hoaks ini dalam pandangan publik masih dianggap jauh dari kesetaraan perlakuan. Maksudnya adalah, penanganan maksimal yang dilakukan masih terlihat tebang pilih atau pilih kasih. Ibarat tajam ke bawah, tumpul ke atas, kebanyakan para pelaku pembuat dan penyebar hoaks yang ditangkap berasal dari kalangan masyarakat awam yang tak populer, rakyat jelata, atau warga biasa yang sekadar emosional.

Sebelumnya1 dari 4 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments