Keadilan untuk Penyebar Hoaks

Niatnya sih mungkin baik, ingin memperingatkan banyak orang tentang suatu informasi yang dianggap penting dan urgen. Namun apa daya kurangnya pemahaman akan kondisi kekinian membuat orang-orang baik ini malah jadi korban oknum tidak bertanggung jawab pembuat hoaks. Tapi hukum tetaplah hukum. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menjadi salah satu hukum positif di Indonesia terkait hoaks, tentu tak pandang bulu. Seharusnya sih begitu.

Akan tetapi, dari pengamatan masyarakat awam, pengusutan akan perilaku pembuatan dan penyebaran hoaks ini seakan masih berat sebelah. Hal ini bisa dilihat dari penanganan yang dilakukan aparat berwenang dalam beberapa kasus terakhir. Dalam salah satu kasus, polisi bisa begitu reaktif dan sigap melakukan penangkapan. Namun dalah suatu kasus, penanganan yang dilakukan nyaris tanpa suara, sehingga progresnya terlihat samar.

Ambil contoh kasus penyebaran hoaks yang dilakukan oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) terkait demonstrasi di gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam kasus ini, polisi begitu cepat menangkap oknum bersangkutan dan langsung menjerat dengan hukum yang berlaku. Berita penangkapan itu pun segera tersiar luas, apalagi membawa-bawa nama salah satu ormas yang keberadaannya terbilang kontroversial tersebut.

Senada dengan kasus hoaks “terbaik” dari Ratna Sarumpaet. Dalam hitungan menit, ibu dari artis Atiqah Hasiholan itu ditangkap aparat kepolisian. Terbilang begitu cepat dan memang sudah seharusnya seperti itu gerak dari aparat kita. Tentu upaya ini patut diacungi jempol agar menjadi contoh bagi pihak-pihak lainnya untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di media sosial yang sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat milenial.

Sayangnya, kecepatan gerak aparat itu berbanding terbalik pada beberapa penyebar hoaks “tertentu”. Khususnya mereka yang selama ini dikenal sebagai pendukung kubu pejabat petahana. Contohnya kasus penyebaran hoaks yang dilakukan “pegiat media sosial” Denny Siregar. Hingga sekarang, pria yang juga dijuluki “Desi” ini tak kunjung dipanggil aparat. Setidaknya kesimpulan itulah yang didapatkan bila berselancar mencari beritanya di internet.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept